Jumat, 17 Juli 2015

Pendidikan Toleransi Bermekaran di Saat Lebaran



  
Gambar diambil dari www.kaskus.co.id
         
Membangun suasana hubungan antarsesama tanpa membeda-bedakan latar belakang sebagai hal yang tak terpisah di bumi Indonesia. Karena Indonesia bangsa yang beragam kultur, agama, kepercayaan, suku, ras, dan golongan. Keberagaman itu tidak dipertentangkan. Tetapi, sebaliknya harus semakin ditumbuhkan untuk dipadukan demi kekuatan bangsa.

            Perbedaan yang saling melemahkan akan menimbulkan kekacauan, ketidaknyamanan, dan ketidakdamaian. Padahal, hidup membutuhkan kedamaian. Hidup merindukan kenyamanan. Hidup mendambakan kesejahteraan. Dan, itu semua menjadi nyata jika memang kehidupan bertoleransi antarkeberagaman terus ditumbuhkan.

            Kenyataan itu sudah diteladankan oleh tokoh-tokoh umat beragama.  Di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) saat Shalat Id (Jumat, 17/7), misalnya, hadir Uskup Agung Semarang Mgr. Johannes Pujasumarta, menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri untuk seluruh umat Islam yang hadir. Kehadirannya, didampingi oleh  Sekretaris Keuskupan Agung Semarang Romo Ignatius Triatmoko serta Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Romo Aloysius Budi Purnomo (Kompas.Com,17/7).

            Kehadiran mereka disambut dengan hangat oleh Ketua Dewan Pelaksana Pengelola MAJT Noor Achmad, Pelaksana Tugas Sekretaris Jawa Tengah Djoko Sutrisno, serta sejumlah pengurus MAJT. Fakta itu menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan toleransi terus diupayakan.

            Pun demikian kenyataan yang terjadi di masyarakat di saat lebaran ini. Antarwarga sekampung saling berkunjung. Menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri dan memohon maaf lahir batin. Itu tidak hanya dilakukan oleh antarumat beragama Islam. Tetapi, sudah menjadi jamak tradisi itu dilakukan oleh umat beragama lain kepada saudara-saudara umat Islam di saat lebaran seperti ini.  Mereka sengaja berkunjung ke rumah-rumah tetangga yang merayakan Hari Raya Idul Fitri. Untuk menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri. Mereka disambut dengan senang hati. Tuan rumah menyediakan kue-kue untuk para tamu. Menikmati kue-kue lebaran sembari bercengkerama sebagai bentuk toleransi sederhana masyarakat. Komunikasi toleransi antarumat beragama ini nilainya sangat mulia.

            Dan, kemuliaan itu semakin lengkap oleh karena dalam kunjungan, mereka lazimnya melibatkan anak-anak. Mereka mengajak anak-anak untuk berkunjung dan mengucapkan selamat berlebaran kepada para tetangga yang merayakannya. Mengenalkan pendidikan toleransi sejak dini, bukankah sebuah ikhtiar yang mulia? Anak-anak akhirnya mengetahui bahwa berhubungan dengan orang yang berbeda agama dan kepercayaan sungguh indah. Anak-anak memahami bahwa orang lain adalah sahabat yang harus dihormati, disapa, dikunjungi, diperlakukan dengan ramah, dan lain sebgainya.  Apalagi saat berkunjung itu umumnya mereka juga mendapat wisit (uang), yang memang disediakan oleh tuan rumah. Anak-anak merasakan suka cita. Ini tradisi yang hingga kini masih subur bermekaran di saat lebaran.
            Andai saja setiap hari dimaknai seperti itu, ah, alangkah damainya hidup ini. Satu dengan yang lain saling bertoleransi. Tidak hanya menyentuh orang-orang dewasa, tetapi menyentuh juga hati anak-anak. Ya, saat lebaran, natal, waisak, dan hari-hari besar agama lainnya yang memungkinkan hadir orang lain untuk saling berjabat tangan, berucap salam, bercengkerama sembari menikmati kue-kue berkah menjadi media pendidikan toleransi yang tak habis-habisnya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""