Minggu, 19 Juli 2015

Silaturahim Lebaran, Menanamkan Pengetahuan Kuliner Lokal pada Anak



Gambar diambil dari sopiarstnt.blogspot.com
            Sudah jamak saat lebaran tiba penganan lokal disediakan. Penganan lokal adalah penganan yang diproduksi sendiri oleh masyarakat setempat yang bersifat turun-temurun. Karena penganan itu sejak dahulu sudah dibuat oleh para pendahulu dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Hingga kini, penganan lokal  tetap eksis. Di tiap-tiap daerah memilikinya secara khas. Penganan khas di suatu daerah tidak dimiliki daerah lain. Kalau pun ada yang menganggap sama, dapat dipastikan tidak sama persis. Mungkin nama bisa sama , tetapi bentuk, rasa, atau warna, berbeda. Pun demikian sebaliknya. Bentuk, rasa, atau warna sama, tetapi nama berbeda.

            Di Kudus, Jawa Tengah (Jateng) saat lebaran, misalnya, selalu ada hidangan keciput. Keciput terbuat dari adonan tepung yang dicampur telur dan bahan-bahan lain. Pemanfaatan telur akan sangat berpengaruh pada empuk-kerasnya keciput ketika sudah dimasak. Semakin sedikit telur, keciput terasa keras saat disantap. Demikian juga sebaliknya, telur ditambah, keciput terasa empuk ketika dimakan.

            Jenang pun tidak ketinggalan sebagai salah satu hidangan khas di Kudus ketika lebaran. Karena jenang termasuk penganan khas Kudus. Keberadaannya diusahakan oleh banyak warga Kudus menjadi industri rumah tangga.  Maka, tak heran Kudus sangat dikenal jenangnya, yakni Jenang Kudus. Jenang Kudus tidak hanya sebagai hidangan khas lebaran di Kudus, tetapi sebagai oleh-oleh khas Kudus.

            Carang madu di daerah Pati juga menjadi hidangan khas lebaran. Penganan ini juga diproduksi oleh tangan-tangan kreatif masyarakat desa sebagai industri rumah tangga. Keberadaannya tak hanya ketika waktu lebaran. Carang madu, yang renyah dan rasanya manis itu, ada setiap saat. Sehingga ia pun menjadi kue lokal untuk buah tangan khas daerah.

            Masih banyak lagi penganan khas daerah di seantero wilayah Indonesia. Barangkali ada ratusan ribu bahkan jutaan jenis pengangan daerah yang tersebar dari wilayah Merauke sampai dengan Sabang. Berjenis-jenis namanya, rasanya, bentuknya, keunikannya, dan lain sebagainya. Kue-kue itu bermunculan secara serentak di daerah masing-masing di saat lebaran atau hari-hari khusus sebagai hidangan khas. Itulah sebabnya, silaturahim lebaran dapat menjadi media mengenalkan penganan khas daerah kepada anak-anak, yang boleh jadi mereka sudah tidak mengenalnya lagi. Karena, anak-anak masa kini lebih akrab dengan kue-kue modern, yang hampir setiap hari menjadi santapan mereka.

            Mereka adalah sumber daya manusia (SDM) yang ke depan memiliki akses untuk melestarikan penganan khas daerah itu. Maka, mengenalkannya secara tak bosan-bosan adalah cara yang paling tepat. Momen Idul Fitri yang dibarengi dengan bermunculannya penganan khas daerah salah satu kesempatan untuk mengakrabkannya. Dalam silaturahim lebaran ke kerabat, tetangga, dan handai taulan, berbagai jenis penganan khas daerah itu dapat diceritakan kepada mereka. Tidak mengurangi nilai-nilai spiritualitas Idul Fitri andai saja di saat itu anak-anak diperkenalkan kue-kue produksi sendiri. 

            Justru di situlah sebenarnya letak pendidikan kuliner daerah disemaikan kepada generasi penerus secara akrab. Dan, cara seperti ini bukan mustahil cara jitu dan tidak membosankan bagi mereka. Sebab tidak ada target khusus seperti pada kurikulum di sekolah. Ibaratnya sembari bermain-main mereka dikenalkan dengan hal-hal penting kearifan lokal yang terlahir dari daerah mereka sendiri.
            Sangat disayangkan jika pada suatu saat kelak, lemper, klepon, uthug-uthug, rengginang, nagasari, bodin, kucur, onde-onde, dan kue-kue khas lainnya tidak mereka ketahui. Hilang dari budaya mereka. Dan, lebih disayangkan lagi andai penganan yang memuat spiritualitas masyarakat Indonesia itu tercuri oleh bangsa lain. Bagaimana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""