Sabtu, 23 April 2016

Doa Bersama dan Motivasi Menjelang Ujian



Sekolah menengah pertama (SMP) dan yang sederajat sekarang menghadapi ujian. Peserta didik dipersiapkan secara utuh, termasuk persiapan mental. Persiapan mental yang dilakukan di sekolah di antaranya dengan mengadakan doa bersama. Doa bersama dilakukan oleh peserta didik kelas IX dan para guru.  



Di SMP 1 Jati, Kudus, Jateng, misalnya, kelas IX sudah mulai berdatangan sebelum kegiatan dimulai. Kegiatan itu dimulai pukul 06.00 WIB.  Mereka mengenakan busana serba putih. Meski beberapa peserta didik ada yang mengenakan busana lain. Kegiatan dipusatkan di aula. Mereka duduk lesehan. Lubang-lubang dinding aula ditutup dengan kain. Sehingga sinar dari luar tidak menembus secara leluasa ke dalam ruang. Suasana dalam ruang dikondisikan agak gelap, bukan hanya karena (nanti) ada slide motivasi yang ditampilkan, tetapi untuk membawa hati anak-anak lebih fokus dalam berdoa.



Doa bersama di aula untuk peserta didik yang beragama Islam. Sedangkan, mereka yang beragama Kristen menyelenggarakan doa bersama (persekutuan doa) di ruang laoratorium IPA bawah. Doa bersama berlangsung selama satu jam. Selama doa berlangsung, tidak terlihat ada anak yang lalu lalang. Anak-anak mengikuti doa bersama secara kusuk.



Saya membayangkan, dalam kegiatan itu anak-anak terbawa dalam suasana religius. Hati mereka hanya mengarah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Merendahkan diri di hadapan kuasa Sang Ilahi. Memohon pertolongan-Nya. Karena mereka sedang menghadapi ujian. Ujian sebagai fase pendidikan yang umumnya dipandang sebagian banyak peserta didik sebagai fase yang menakutan. Sekalipun sejatinya, bagi anak-anak yang sudah mempersiapkan diri sejak dini, ujian tidaklah menjadi momok.



Begitu doa bersama selesai, dilanjutkan kegiatan motivasi. Semua peserta didik, baik yang muslim maupun kristiani, berkumpul di aula. Motivasi dibawakan oleh seorang motivator. Motivator membangun kekuatan mental anak dalam menghadapi ujian. Dikatakan, semua orang sudah dianugerahi modal yang baik oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Tuhan senantiasa merencanakan hal yang baik bagi umat-Nya. Tuhan tidak pernah merencanakan kecelakaan kepada umat-Nya. Oleh karena itu, seharusnya dalam menghadapi ujian, anak-anak tidak perlu khawatir, takut, apalagi stres atau depresi.



Yang penting, anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin dalam mempersiapkan diri. Belajar dengan tekun. Berdiskusi dengan teman untuk menguasai materi pelajaran yang diujikan. Bertanya kepada guru terkait dengan materi-materi yang belum terkuasai. Mengikuti program-program belajar di sekolah secara tertib. Dan, jika mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, lakukanlah secara disiplin. Tuhan tentu tidak menutup mata terhadap umat-Nya yang telah berusaha sedemikian.


Saya berpikir, doa bersama dan motivasi yang dikenakan kepada anak-anak dalam menghadapi ujian sebagai ikhtiar yang positif. Sebab, mereka, anak-anak, memang harus memperoleh pengawalan seutuhnya agar harapan mereka, orang tua, dan sekolah dapat teraih. Selamat menghadapi ujian!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""