Jumat, 22 April 2016

Sehat dan Segar, Makan Secara Konvensional



Makan siang ini tadi kami lakukan berdua. Aku dan si bungsu. Sebab, istriku dan si sulung telah makan terlebih dahulu. Menu makan siang kami sederhana. Nasi putih, sayur asam, tahu dan ikan goreng. Satu lagi kesukaan kami, kecuali si bungsu, sambal terasi. Si bungsu belum begitu suka “makhluk” yang satu ini. Kelezatan sambal terasi belum familier di lidahnya. Suatu kali pernah mencoba makan dengan sedikit colekan sambal terasi, tapi lidahnya dijulur-julurkan keluar karena merasa pedas.

Akan tetapi, jika ada sayur asam yang tidak begitu pedas, si bungsu selalu makan dengan lahap. Nasi dalam piring dipenuhi sayur asam dengan kuah meluber. Ia makan tidak menggunakan sendok. Cukup menggunakan jari-jari tangannya, muluk istilah bahasa Jawanya. Makan secara konvensional seperti yang dilakukan si bungsu itu terlihat begitu lezat. Walau ketika muluk, kuah sayur tidak semua berhasil terjaring dalam cakupan jari apalagi dalam ruang mulut. Kuahnya pasti tertinggal karena rongga antarjari lebar yang memungkinkan kuah jatuh ke piring.

Bagian yang dapat dinikmati, dikunyah dalam mulut, tentu hanya yang berhasil terjepit di antara jari. Nasi bercampur dengan isi sayur. Kuah sayurnya tentu sangat sedikit. Sekalipun sedikit, kuah sayur yang membasahi nasi dan isi sayur cukup melunakkan bagian yang dikunyah. Tetap memudahkan penikmat menelan hasil kunyahannya.
Karena dalam piring penuh kuah sayur serupa telaga, sering si bungsu minta ikannya (jika ada lauk ikan) disiapkan kecil-kecil di tepian piring. Aku memang lebih menyukai yang demikian. Sebab, jika ia harus memisahkan sendiri antara daging dan tulang ikan di piring yang penuh kuah sayur, mengkhawatirkan. Tulang ikan dapat saja bercampur dengan kuah sayur, yang menyulitkannya menyantap makanan. Bahkan, bukan mustahil tulang ikan ikut terkunyah yang pada akhirnya melukai ruang mulut atau lidahnya.
Berbeda ketika ia makan tanpa kuah sayur. Ikannya biasanya dipilah-pilah sendiri. Tindakan ini  tidak mengkhawatirkanku. Sebab, tanpa kuah memungkinkan tulang mudah dibedakan dengan daging ikan karena tidak larut dalam kuah. Dan, ini masih relatif mudah bagi si bungsu untuk menyantap makanan.
Sekalipun aku sendiri makan lebih suka memakai sendok, tidak demikian si bungsu. Kebiasaan ibunya dan kakaknya ternyata lebih mewarnai kebiasaan si bungsu. Makan secara konvensional terasa lebih terbiasa baginya. Saat makan tanpa sayur atau bersama sayur dapat dilakukannya dengan nikmat.
Makan secara muluk sejatinya budaya leluhur. Nenak moyang kita zaman dahulu belum mengenal sendok. Ketika makan, mereka terbiasa muluk. Baik saat makan bersama keluarga di rumah. Maupun ketika makan bersama-sama saat ada acara di masyarakat. Tempat membasuh tangan sudah disipakan. Jadi, sebelum menyantap makanan, harus membasuh tangan terlebih dahulu. Sayang, dahulu seingatku, tempat membasuh tangan itu hanya satu. Satu baskom besar diisi air untuk beberapa orang. Secara higienitas, cara demikian kurang sehat.
Sekarang sudah berbeda. Saat makan secara muluk, mencuci tangan dahulu di wastafel. Mencuci tangan di air yang mengalir. Sekalipun satu wastafel dipakai banyak orang secara bergantian, air tetap bersih. Kalau sedang makan di warung pinggir jalan (pedagang kaki lima), biasanya tempat membasuh tangan disiapkan satu untuk satu orang dalam mangkuk. Higienitasnya agak terjaga. Jika makannya di rumah, air untuk membasuh tangan sebelum menikmati makanan tersedia lebih leluasa.
Oleh karena itu, aku tidak khawatir manakala istri dan anak-anak kami menikmati makan secara muluk. Bahkan, kebiasaan itu sejatinya lebih sehat kalau diawali dengan mencuci tangan secara bersih ketimbang menyantap makanan dengan sendok. Yang saya maksudkan jika kita makan di luar rumah, misalnya  di rumah atau warung makan. Sendok yang tersedia di tempat itu belum tentu terjaga kebersihannya. Apalagi jika banyak pelanggan. Sendok, piring, gelas, dan sarana lain dipakai secara bergantian dalam waktu yang singkat. Mana mungkin sarana itu dicuci secara cermat dan bersih? Bagiku jika makan di luar rumah lebih sehat secara muluk, meskipun kalau makan di rumah menggunakan sendok.

Makan secara muluk diakui oleh banyak orang lebih segar. Dan, memang itulah yang aku lihat pada si bungsu ketika makan secara muluk. Ia sangat menikmati. Apalagi jika makannya bersama sayur berkuah. Kuah sayur yang masih tertinggal di piring tidak dibiarkan terbuang. Sekalipun nasi, ikan, dan isi sayur sudah habis, kuah sayur yang masih ada ditandaskan pula. Supaya kuah sayur itu dapat masuk ke dalam ruang mulutnya dilakukan juga secara konvensional, diuyup (bahasa Jawa) atau diseruput serupa orang menyeruput kopi dari lepek. Si bungsu menyeruput kuah sayur langsung dari piring. Cara seperti ini, diakui oleh banyak orang —lebih-lebih oleh angkatan tua— sungguh segar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""