Rabu, 25 Mei 2016

Menyadari Semua Berbatas



Gambar diambil dari haniefahnooresa.wordpress.com
Tadi pagi saya dan beberapa teman pergi melayat. Orang tua salah satu kolega kami meninggal kemarin sore. Usianya sudah tua. Delapanpuluh tiga tahun. Jika seorang guru pensiun (mengajar dan mendidik) enampuluh tahun, maka orang tua teman kami itu memeroleh tambahan usia duapuluh tiga tahun baru menerima pensiun (hidup) dari Tuhan. Usia yang panjang. Sepanjang usia itu tentu ada banyak hal yang diperbuat. Tidak hanya untuk dirinya. Tapi, untuk anak-anaknya. Juga untuk orang lain. Hal itu menegaskan bahwa  saat masih hidup, almarhum tak bisa lepas dari banyak orang.

Selain tetangga, juga kenalan, teman dekat, dan kolega (saat masih hidup), datang memberikan penghormatan yang terakhir. Hanya, kami tak sampai pada acara pemakaman. Kami izin dulu. Karena di sekolah masih ada pekerjaan. Tapi, saya, juga Anda, memiliki pengalaman menarik. Bahwa jumlah pelayat satu orang dan orang lain yang meninggal, tak sama.  Orang yang selama hidup berkepribadian baik, dihadiri banyak pelayat kala meninggal.

Para pelayat lazimnya membicarakan kebaikan-kebaikan almarhum/almarhumah saat masih hidup. Mengenang jasa-jasanya. Seperti mengenang jasa-jasa pahlawan bangsa. Segala peninggalan almarhum/almarhumah sebagai peninggalan yang harus dilestarikan. Para pelayat merasa memiliki tanggung jawab menjaga warisan kebaikan itu. Karena warisan kebaikan itu memberi kebermaknaan hidup mereka.  Maka, walaupun keterpisahan telah terjadi, energi almarhum/almarhumah masih mereka rasakan.

Jabatan, posisi, profesi, peran, atau yang sejenisnya tak berbeda dengan hidup. Semua itu berbatas. Sifatnya sangat sementara. Sekarang ada, kelak tiada. Karena pensiun. Pensiun dari jabatan, posisi, profesi, atau peran. Jabatan, posisi, profesi, atau peran yang tak terhayati secara baik ketika (masih) ada, kala tiada meninggalkan derita. Sebab, orang-orang yang pernah terjalin dengan si empunya jabatan, posisi, profesi, atau peran yang demikian itu, tak akan menyediakan tempat di hati.

Disediakan tempat, tapi di mulut. Dibuat bahan pergunjingan. Kejelekan-kejelekannya dibicarakan. Ke sana ke mari. Apalagi orang berkecenderungan senang mempergunjingkan keburukan liyan. Hal ini memungkinkan berita buruk tersebar sampai ke mana-mana. Tak ada yang dapat membendung karena sudah “pensiun”. Yang awalnya hanya di ketahui kalangan dalam. Akhirnya juga diketahui kalangan luar.

Bahkan tak hanya sesudah ajal (pensiun) tiba. Pergunjingan teralami sekalipun belum tiba ajal. Sembari sembunyi-sembunyi orang mempergunjingkan. Ngrasani di mana-mana. Lebih pahit daripada itu, bukan mustahil ada tindakan “pemberontakan” secara kalem. Setiap kebijakan yang diputuskan, dilakukan setengah hati oleh bawahan atau kolega. Bukankah lambat laun kenyataan itu menjadi bumerang yang mencelakai diri sendiri?

Itu sebabnya, menyadari bahwa semua itu berbatas, amat penting. Karena, orang (akan) berpikir ulang ketika hendak berbuat jahat. Orang yang arogan terdorong berubah rendah hati. Jabatan, posisi, profesi, atau peran tidak akan dipraktikkan secara semena-mena. Sebab, menyadari bahwa ajal tiba; pensiun menunggu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""