Rabu, 03 Agustus 2016

Belajar Menulis Halus



Dahulu mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia menyisipkan belajar “menulis halus”. Boleh jadi karena belajar hal itu membutuhkan konsentrasi lebih, maka menghasilkan tulisan yang baik. Bahkan, sekaligus benar. Penulisan huruf besar dan kecil sangat diperhatikan.
            Namun, entah karena apa, tiba-tiba belajar menulis halus hilang dari kebiasaan di sekolah. Sejak kapan hilangnya, saya tak mengingatnya. Tetapi, yang saya tahu kemudianbanyak tulisan anak-anak sekolah yang kurang baik. Kekurangbaikan tulisan mereka karena (mungkin) ketika mereka menulis kurang konsentrasi lebih atau kurang hati-hati.
            Padahal, diakui atau tidak, kekuranghati-hatian dalam hal tersebut dapat berdampak padaperilaku. Artinya, kekuranghati-hatian dalam menulis berpengaruh pada kekuranghati-hatian dalam berperilaku.Di sini bukan bermaksudmau mengatakan bahwa kalau tulisan kurang baik pasti berperilaku kurang baik. Tetapi, hanya mau mengatakan bahwa bersikap kekuranghati-hatian (yang di antaranya diperoleh dari belajar “menulis halus”) berpengaruh pada keseluruhan atau sebagian perilaku kurang baik seseorang.
            Mapel prakarya (yang juga hilang) sebenarnya memiliki kesamaan dengan belajar menulis halus. Kedua-duanya membutuhkan konsentrasi lebih. Bahkan, mapel prakarya membutuhkan kreativitas. Kedua mapel ini dapat membentuk anak bersikap hati-hati, tekun, dan teliti. Sikap ini yang sekarang sulit ditemui pada anak-anak. Oleh karena itu, saya senang saat si bungsu yang sekarang kelas III diberi tugas menulis halus. Saya harus mengajarinya di rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""