Selasa, 09 Agustus 2016

Laki-laki Menyapu, Kenapa Tidak?

           
BERANI BEDA: Anak laki-laki menyapu di kelas.
Menyapu dianggap kegiatan yang harus dilakukan wanita. Jadi, kesannya biasa saja jika kita menjumpai wanita, baik dewasa maupun anak-anak, sedang menyapu. Persepsi itu yang semakin menjadikan dominasi wanita terhadap kegiatan menyapu. Baik di rumah maupun di luar (rumah). Termasuk di sekolah, anak-anak wanita lebih aktif dalam kegiatan menyapu ketimbang laki-laki.


            Seharusnya kita memberi acungan jempol jika menemukan anak laki-laki mau menyapu. Karena, anak laki-laki yang mau mengambil alih peran wanita, dalam hal ini menyapu, adalah anak laki-laki yang hebat. Apa hebatnya? Kalau selama ini menyapu identik dengan wanita, anak laki-laki itu berani menabrak persepsi itu. Mungkin ia dianggap “aneh” terutama oleh anak laki-laki yang lain. Bahkan, bukan mustahil ada yang mengolok-oloknya sebagai laki-laki tak sejati.


            Padahal fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit petugas kebersihan (kota) didominasi kaum lelaki. Saya tidak tahu persis perbandingan antara laki-laki dan wanita petugas kebersihan. Tetapi, yang selama ini saya lihat, petugas kebersihan (termasuk yang menyapu) banyak yang berjenis kelamin laki-laki. Mereka ditempatkan di area tertentu yang menjadi tanggung jawabnya untuk menyapu bersih sampah yang berserakan. Sehingga area itu menjadi bersih dan tidak berbau, yang dapat menyenangkan benak masyarakat. Menyehatkan masyarakat.

            Pun dapat membanggakan kota jika (akhirnya) mendapat penghargaan kota bersih. Piala adipura pasti dapat menambah keberhasilan program kota tersebut. Penghargaan ini teraih karena peran besar petugas kebersihan. Petugas kebersihan yang menjadi pionernya. Mereka penggerak dari semua elemen di masyarakat. Oleh karena itu, layaklah jika kotanya meraih adipura, mereka pun menerima penghargaan.


            Melihat dampak (begitu) positif dari peran petugas kebersihan, maka saya sangat menghargai anak-anak yang menjalankan tugas kebersihan di sekolah, di kelas-kelas. Apalagi kalau yang melaksanakan itu anak laki-laki. Saya patut berbangga atas peran mereka itu. Sekalipun, kebanyakan mereka malu-malu melakukannya. Hal itu terlihat saat kali pertama hendak melakukannya. Tidak bertindak cepat. Mereka malu-malu memegang sapu. Mereka menoleh ke sana ke mari, seakan mencari teman yang dapat dikambinghitamkan. 

            Padahal, jika tugas itu sudah dijalankan tidak ada di antara teman-temannya, baik laki-laki maupun wanita, yang mengejek. Tidak ada yang memandang rendah tugas itu. Mereka bahkan membantu memudahkannya menyapu sampah-sampah yang ada di kolong meja dan kursi. Dengan cara, mereka tak segan berdiri dan membiarkan teman yang menyapu itu leluasa membersihkan semua sampah yang ada. Ini bentuk penghargaan dari teman-temannya. Mereka tidak merintangi.
            Hanya, sampai sekarang, persepsi salah tentang aktivitas menyapu itu masih melanda sebagian pikiran orang. Masih banyak kita lihat di rumah-rumah, pembagian tugas berdasarkan gender. Ibu-ibu selalu menyuruh putrinya menyapu. Dan, bapak- bapak senantiasa menyuruh putranya membersihkan jelaga/sawang. Tentu saja ini berlaku bagi keluarga yang anggota keluarga (dari unsur anak) terdiri atas wanita dan laki-laki.

            Pengondisian itu ternyata terbawa sampai ke sekolah. Sekalipun pembagian tugas di sekolah sudah merata, baik laki-laki maupun wanita; tak ada pemilahan khusus, masih banyak anak yang kurang berani menabrak persepsi. Anak-anak wanita cenderung “dikorbankan” oleh teman-temannya yang laki-laki supaya bertugas menyapu.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""