Jumat, 12 Agustus 2016

Mendampingi Anak Belajar Secara Proaktif



           
Gambar diambil dari dispenzer.blogspot.com
Ketika mendampingi anak belajar, kita tentu berharap ia belajar dengan baik. Belajar dengan baik ditandai dengan konsentrasi yang terjaga. Sejak memulai belajar hingga selesai, anak tetap fokus terhadap apa yang dipelajari. Pikirannya tidak bercabang. Tidak memikirkan apa yang sedang dipelajari bercampur dengan hal lain. Sekalipun secara fisik terlihat fokus, belum tentu pikiran anak fokus. Sehingga orangtua atau pendamping perlu cermat. 

            Ketidakfokusan  dalam belajar dapat terlihat juga dalam perilaku anak. Anak tidak menggumuli bagian yang sedang dipelajari, tetapi pergi ke sana ke sini, menandakan bahwa kefokusannya kurang baik. Kenyataan yang dapat kita lihat saat anak-anak kita (terutama yang masih kelas rendah SD) sering berperilaku demikian. Barau saja membaca buku, tiba-tiba pergi ke kulkas mengambil minuman, bilang perutnya mules, kepalanya pusing, melongok keluar rumah lewat jendela, dan sebagainya.

            Kekurangfokusan  dalam belajar membuat belajar tidak efektif. Karena hasil belajar tidak diperoleh secara optimal meski menelan waktu yang panjang. Materi yang dipelajari hanya terekam sedikit di otak. Atau bahkan sama sekali tidak terekam. Kalau demikian yang terjadi, tentulah aktivitas belajar yang dilakukan anak tersebut sia-sia.

            Dalam keadaan anak belajar seperti itu, sering kita menegur dan menasihati. Kata-kata keluar dari mulut kita. Meminta anak untuk fokus belajar. Tidak mengizinkan anak ke sana ke sini. Entah dengan bahasa yang lembut atau agak keras. Yang penting anak dapat beraktivitas di tempat belajar. Kita sering abai terhadap pikiran dan perasaan anak. Hanya yang terlihat yang kita perhatikan.  Sehingga ketika anak sudah tampak diam dan belajar di tempat belajarnya, hati dan pikiran kita menjadi tenang.

            Padahal kalau kita mau introspeksi, sebenarnya dalam keadaan seperti itu kita tidak sebagai pendamping, tetapi pengawas. Yaitu mengawasi anak belajar. Padahal yang namanya  mengawasi itu tentu ada jarak dengan yang diawasi. Yang lebih memrihatinkan,  mengawasi selalu terkait dengan  mindset yang berkonotasi negatif.  Karena, mengawasi itu berangkat dari pemikiran kalau-kalau pada diri yang diawasi ada sikap yang “menyimpang”.

            Intip saja guru yang mengawasi anak-anak didiknya yang sedang mengerjakan soal-soal ujian. Tidak ada anak didik yang berkutik karena diawasi. Dirasa ada sesuatu yang kurang lazim saja, guru pengawas langsung menegur atau setidak-tidaknya “melirik”. Fakta ini membuat anak didik tersebut grogi, kalau tak boleh dibilang takut. Hal ini sangat merugikan anak didik. Karena, perasaan yang dialaminya dapat berdampak terbatasnya berpikir.

            Tentu saja tak ada satu pun orangtua yang menginginkan kenyataan seperti itu terjadi pada anak-anaknya. Sebaliknya orangtua mesti menginginkan anak-anaknya belajar dalam kondisi perasaan yang sejahtera. Oleh karena itu, salah satu cara yang dapat dilakukan oleh orangtua ketika anak-anaknya belajar adalah turut belajar. Orangtua tidak hanya duduk tenang tanpa aktivitas apa pun. Hanya melihat anaknya belajar. Berada duduk di dekat anaknya. Tidak sebatas itu. Orangtua sebaiknya melakukan aktivitas bermanfaat. Anak aktif, orangtua pun aktif. Sekalipun aktif dalam bidang yang berbeda.

            Bahkan, semua orang yang ada di rumah sama-sama aktif. Jadi, suasana rumah “hidup” dalam aktivitas yang positif. Semua kondisi yang kurang membangun suasana belajar di rumah memang harus dihindarkan. Televisi dimatikan. Suara radio tidak terdengar. HP diistirahatkan. Kondisi demikian, disadari atau tidak, akan menjaga perasaan dan pikiran anak lebih sejahtera. Yang, bukan mustahil memotivasinya belajar lebih baik karena teladan ditemukan langsung di depan matanya.

            Hal ini hampir semua orangtua menyadari. Penting untuk dilakukan. Hanya, sering-sering kurang dapat mewujudkannya. Ego pribadi (termasuk diri saya) biasanya lebih mendominasi sehingga kepentingan-kepentingan orang lain, termasuk anak sekalipun, kurang mendapat tempat. Sekarang, tinggal kita mau melakukan atau tidak. Ini sebuah pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""