Jumat, 05 Agustus 2016

Mengubah Hati



BERAKSI: Anak-anak, termasuk si bungsu, belajar biola.
Sejak siang si bungsu mengaku kepalanya pusing. Ia merengek kesakitan. Kepalanya dipegang-pegang. Terlihat tak bersemangat. Lalu, menuju ke tempat tidur. Hanya, ia tak langsung bisa tidur. Tampak tak nyaman sepertinya. Kapalanya tetap dipegang-pegang. Masih juga merengek. Kakinya ditarik-tarik menggesek-gesek sprei. Badannya berguling ke kiri ke kanan. Kudekati. Kuelus-elus kakinya dan kutepuk-tepuk punggungnya saat posisi badannya miring. Air matanya membasahi raut mukanya karena sesekali diseka dengan telapak tangannya.

Akhirnya tertidur juga. Dalam keadaan tidur, kulihat, wajahnya begitu lembut. Lugu dan menggemaskan. Basah bekas air mata yang memorak-porandakan rambut poninya, kuseka ke atas. Tampak keningnya berkeringat. Kucium diam-diam. Betapa Tuhan menganugerahi kami, putri-putri yang cantik. Si bungsu dan kakaknya.

Kupastikan badan si bungsu sakit atau tidak. Kusentuh-sentuh kulit tangannya, kakinya, dan keningnya. Suhu tubuhnya tak panas. Normal saja. Terasa segar. Aku jadi bertanya-tanya dalam hati. Mengapa ia mengaku kepalanya pusing. Jangan-jangan tak pusing, tapi berpura-pura pusing.
Menduga-duga begitu, ada alasannya. Karena malamnya ia harus belajar biola. Tidak sendirian. Ada banyak teman. Tapi ada tugas yang diberikan oleh guru biola saat pertemuan minggu lalu. Dan,  mereka harus memraktikkan sendiri-sendiri pada pertemuan berikutnya. Hari saat si bungsu mengaku kepalanya pusing itu, malamnya mereka harus memraktikkannya, termasuk si bungsu. Barangkali merasa belum bisa, ia mengaku pusing kepala agar kami mengizinkan tak perlu datang belajar biola.
Saat bangun tidur, ia masih tampak tak bersemangat. Kepalanya dipegang-pegang. Meski badannya terasa segar saat kuraba.Tak panas maksudku. Anget pun tidak. Saat kuminta tidur lagi, ia tak bisa tidur. Tapi, kelihatan gelisah. Turun dari tempat tidur. Jalan ke kulkas. Mengambil jajan. Lalu memakannya sambil menuju ke tempat tidur lagi. Namun, tetap tak bisa diam.
Dengan kakaknya, aku katakan tentang dirinya. Yaitu mungkin adik terbeban jika nanti harus memraktikkan tugas dari guru biola. Sekalipun tak memberi komentar, aku berkesimpulan kakaknya setuju dengan perkataanku. Itu kulihat dari bahasa tubuhnya. Tanpa kupikir dampaknya, lalu secara sembrono aku berkata kepada si bungsu. Intinya, apakah ia takut belajar biola. Ia menjawab, tidak.

Aku, sementara percaya perkataannya. Sebab, sebetulnya, tentang tugas guru biola, menurutku, ia sudah menguasai meski belum seratus persen. Beberapa kali berlatih denganku. Sekali berlatih sendiri. Kudengar nadanya benar sekalipun suara gesekannya belum terdengar jernih.

Tetapi anehnya ia tak respon saat kutawari belajar biola. Hanya diam. Dan, tak punya keberanian menatap wajah ayahnya, aku sendiri. Aku pun agak gegabah mungkin. Karena kemudian anak usia kelas III SD itu kuberi “ceramah”. Inti ceramahnya begini. Orang kalau mau sukses harus berani menghadapi tantangan. Ada kesulitan tak boleh menyerah. Harus memiliki daya juang.Tak ada orang yang sukses tanpa perjuangan.
Aku tak tahu, apakah ceramahku masuk di pikirannya atau tidak. Tapi, harapanku dapat memasuki ruang pikirannya. Dalam hal ini, aku sangat egois barangkali. Tapi, jika buku cerita bergambar (cergam) Why? People Mahatma Gandhi dan Oprah Winfrey yang ia sudah baca, dimengerti isinya, ia paham isi ceramahku. Suksesnya tokoh-tokoh itu mengubah dunia, bukan tanpa tantangan.

Akan tetapi, ia tetap bergeming. Diam saja. Tak ada semangat. Atau, barangkali malah semakin kalut pikirannya karena ceramahku yang begitu egois. Sehingga diamnya semakin menjadi. Meski sudah tak menangis.

Untung saja mogoknya itu tak mengalahkan Hikmat Allah yang masih bersemayam  di benakku. Sehingga, dalam hitungan detik, hatiku tertata. Bisa lebih rendah hati. Wujudnya adalah aku mengambil biola. Dengan suara ramah kuajak ia. Kumainkan biola mengikuti nada-nada seperti nada-nada pada tugas guru biola. Ia yang mengetuk nada-nada itu, seperti guru. Aku menggesek senar-senar biola itu dengan bow, alat gesek biola. Asal keluar bunyi. Tapi, ia terlihat senang. Ia menikmati permainan, ia mengetuk-ngetuk nada, aku memainkan biola. Akhirnya, ia mau menggantikanku memegang dan memainkan biola ketika biola kuserahkan padanya. Aku menggantikannya seperti guru biola, mengetuk-ngetuk nada. Kami mengulanginya beberapa kali. Ia sangat menikmati. Dan, malamnya, dengan gembira ia belajar biola bersama teman-temannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""