Sabtu, 20 Agustus 2016

Orkestra Jalanan



Gambar diambil dari http://nasional.republika.co.id.
Mengantar keponakan ke Solo, di sepanjang perjalanan, pulang dan pergi, saya banyak menjumpai berbagai kesibukan di jalan. Orang-orang ditelan kesibukannya masing-masing. Pengendara mobil, motor, sepeda, becak, penumpang, sopir, polisi, pekerja jalan, pedagang asongan, dan polisi amatir (pengatur arus lalu lintas yang meminta imbalan sekadarnya) menyerupai pertunjukan orkestra yang menakjubkan. Masing-masing memainkan perannya masing-masing. Bunyi-bunyian yang saling menimpuh satu dengan yang lain menimbulkan suara yang eksotis.  Bahkan, gerakan-gerakan yang dapat kita lihat, menyempurnakannya menjadi sebuah tampilan yang memukau.

Dan, di panggung perjalanan itu, kami bagian dari pemain. Para pemain memiliki tanggung jawab masing-masing. Kami pun begitu. Peran yang kami bawakan harus memiliki keterpaduan dengan pemain lainnya. Menetapkan ego pribadi di atas kepentingan para pemain,  niscaya mengganggu kesuksesan pertunjukan. Karena bisa-bisa pertunjukan orkestra jalanan tidak dapat dinikmati secara nyaman.

Akan tetapi, saya yakin bahwa masing-masing sudah dianugerahi kemampuan yang luar biasa di bagiannya. Ada yang piawai memainkan setang-setang motor. Ada yang cerdas memainkan setir-setir mobil. Ada yang lincah memainkan peluit dalam membagi arus jalan. Ada yang pintar memainkan dagangan-dagangannya, baik minuman maupun makanan. Ada yang lincah memainkan ini dan itu, dan lain-lain. Kesemua kemampuan yang beragam itu (sejatinya) saling terkait.

Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama yang baik. Sekalipun harus diakui bahwa satu dengan yang lain belum tentu saling mengenal. Tetapi, keunikan budaya di jalan nyatanya mampu membuat kita saling “mengenal”. Sehingga tak perlu heran jika kita saling melepas senyum, mengangguk, mengedipkan mata, dan mengeluarkan bahasa-bahasa tubuh lainnya untuk menjalin komunikasi. Agar perjalanan lancar. Tak ada satu pun pemain orkestra jalanan yang dirugikan. Semua dapat mengambil peran masing-masing secara baik. Aman, sejahtera, dan selamat dialami oleh semua pemain orkestra jalanan. Dan, itulah sebetulnya eksistensi pertunjukan orkestra jalanan.

Hal, yang (sebetulnya) sama dengan kita yang berada di dunia ini.  Sebab, bukankah dunia ini “hanya” semacam sebuah jalan? Karena sejatinya kita tak selamanya di dunia ini. Di dunia, hanya mampir ngombe. Begitu banyak orang menyebutnya. Karena mampir ngombe, yang terbayang dalam pikiran kita (kemudian) adalah kita sedang melakukan perjalanan.Yaitu, perjalanan kehidupan. Dan, tak dapat dipungkiri kita berjumpa dengan berlaksa-laksa orang. Dengan keberadaan yang beragam. Tak satu pun ada yang sama. Sekalipun kita dapat menyebut anak kembar terhadap lebih dari satu anak lahir bareng, misalnya, kita tak akan menemukan kesamaan yang persis. Pasti masih ada bedanya. Itulah anugerah Tuhan yang tiada taranya.

Oleh karena perbedaan hakiki yang tak seorang pun mampu mengubahnya, maka sepatutnya kita menghargai perbedaan yang ada itu. Tanpa mengunggulkan yang satu terhadap yang lain. Tanpa merendahkan yang satu terhadap yang lain. Tetapi, saling melengkapi. Dan jika hal ini yang terjadi, maka orkestra jalanan mahabesar itu menjadi pertunjukan yang tak sekadar menakjubkan, tapi sangat menakjubkan.

Hanya, fakta yang ada tidak demikian. Karena ternyata ada sebagian orang (di sepanjang perjalanan kehidupan ini) kurang menghargai perbedaan. Selalu ada yang kurang dapat menerima keberadaannya. Ia tak mengukur dirinya dengan ukurannya sendiri, tapi menggunakan ukuran orang lain. Dengan begitu tak menemukan kepuasan. Jika sudah demikian, bukan mustahil perannya sebagai salah satu pemain orkestra di perjalanan kehidupan akan mengganggu keberlangsungan pertunjukan orkestra semesta. 

Menyadari bahwa masing-masing kita memiliki peran yang berbeda-beda merupakan upaya yang harus terus dilakukan. Dan kemudian, peran itu yang harus kita tekuni dan gumuli semaksimal mungkin. Karena bukan tidak mungkin di dalamnya tersimpan mutiara yang cemerlang. Yang, bisa menjadi bagian dari bagian-bagian lain, yang dapat diorkestrasikan menjadi pertunjukan orkestra hidup yang menyejahterakan dan mendamaikan bagi semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""