Rabu, 17 Agustus 2016

Sisi positif Medsos Mempertemukan yang Berdiaspora



Foto diambil dari WA Alumni SPG Pati Tahun 1986.
            Media sosial (medsos) memiliki sisi positif. Sisi positif medsos, oleh sebagian orang, dimanfaatkan untuk membangun kehidupan bermakna. Baik kehidupan sosial, budaya, politik, sandang, pangan, maupun papan. Orang-orang yang suskses di zaman kini kebanyakan memanfaatkan sisi positif medsos. Mereka telah hengkang dari tradisi lama. Menangkap tradisi modern, salah satunya berwujud medsos, untuk pegangan dalam tumbuh kembang mereka. Sebab, tradisi lama (konvensional) sudah tidak mampu lagi mengejar kemajuan kemodernan.
            Akan tetapi, tak sedikit orang gagal dalam hidup gara-gara medsos. Kalangan remaja-pemuda yang baru mengenal medsos sementara ketangguhan mental belum terbentuk, yang banyak menjadi korban. Akibat kekurangsiapan mental dalam menghadapai kemodernan, hanyutlah hidup mereka dalam putaran modernitas global.
            Tak sedikit (terutama) remaja-pemuda yang awal-awalnya baik, begitu mengenal medsos, tiba-tiba berubah. Menjadi pribadi yang individualistis, egois, sensitif, dan anarkis. Fakta itu tidak hanya ditemukan di kota-kota besar. Di pelosok-pelosok kampung pun mudah ditemukan. Kita ingat kasus perkosaan yang menimpa Yuyun, siswa SMP, di Padang, Sumatera Barat, akibat dari sisi buruk medsos. Anak-anak desa yang dengan tiba-tiba mengenal medsos, tapi mental mereka belum terbangun, melahirkan peristiwa yang mengenaskan itu.
            Akibat (lebih) buruknya adalah kehidupan mereka tidak manis. Keluarga Yuyun dengan pemerkosa (mungkin juga dengan keluarganya) tak lagi berhubungan “baik” sekalipun sekampung. Mereka bercerai. Bahkan, cenderung bermusuhan. Artinya, dampak buruk medsos sampai menimpa orang-orang yang tak terlibat. Hubungan sosial rusak karena sisi buruk medsos.
            Namun, jika kita mau menyadari, tidak sedikit hal baik yang disebabkan oleh sisi positif medsos. Seperti munculnya komunitas-komunitas (grup-grup) baru melalui WhatsAap (WA), facebook, Instagram, dan sejenisnya. Orang-orang yang hidup berdiaspora akibat tuntutan kebutuhan hidup, dapat dipersatukan melalui medsos. Sekalipun, bertahun-tahun tak terhubung karena berada di tempat yang berjauhan. Bersibuk ria dengan profesi masing-masing. Memikirkan keluarga masing-masing. Bahkan, boleh dibilang telah saling terlupakan. Medsos ternyata menjadi media pembangun pertalian yang telah saling terlupakan itu sehingga tersambung lagi.
            Grup-grup WA, facebook, dan sejenisnya terlahir di tengah-tengah mobilitas kehidupan modern yang cenderung terpecah-pecah itu menjadikan kita satu keluarga global. Saya, yang kurang lebih tigapuluhan tahun terpisah dengan teman-teman (oleh karena tuntutan hidup) sejak remaja-pemuda, kini dapat berhubungan lagi meski dalam dunia “percakapan” dalam bentuk cetingan. “Alam” yang satu ini tak dibatasi oleh waktu, tempat, situasi, dan kondisi. Kita dapat saling bercekerama  dari mana, kapan, dan dalam situasi apapun. Semua dapat dilakukan secara praktis.
            Perjuampaan dalam satu keluarga global itu dapat menjadi penyemangat hidup. Tempat saling berbagi. Baik berbagi pengetahuan, pikiran, informasi, maupun perasaan. Dan, fakta yang berkembang kemudian dapat mempertemukan kita (yang terpisah-pisah) dalam pertemuan sebenarnya. Reuni, misalnya. Bahkan, lebih dari itu, saya melihat, sikap kepedulian antarsesama terbangun. Yang sehat mengunjungi yang sakit. Yang memiliki kerja dikunjungi teman-teman lama. Yang hendak berangkat haji, didoakan dan didukung secara moral bersama. Bukankah ini sebuah keindahan yang pernah hilang ditemukan kembali?
            Di samping itu, dari sisi positif, medsos mampu membuka kembali memori-memori lama yang mungkin sudah terkubur oleh lamanya waktu. Ini artinya, memaksa pikiran kita untuk mengingat-ingat masa lalu. Boleh jadi ini membuat pikiran kita menjadi “cerdas” kembali. Kerja keras untuk mengingat-ingat masa lalu, saya rasa unik dan menarik. Ini salah satunya yang membuat kita (tetap) muda sekalipun usia sudah tua. Saling berbagi ingatan-ingatan lama mampu membuat kita tertawa, tersenyum, atau mungkin ada juga yang menangis. Tetapi, saya yakin, menangis haru. Menangis bahagia.
            Maka, saya sangat menghargai kerja orang-orang yang dengan suka cita membangun grup-grup di medsos untuk tujuan-tujuan yang mulia. Membangun tali yang terputus. Membangun percengkeramaan yang bermakna. Membangun semangat pantang menyerah mengantar anak-anak meraih sukses di masa depan. Membangun kebersamaan. Pun, saya begitu menghargai orang-orang yang memanfaatkannya untuk saling berbagi berkat, baik moral maupun spiritual, juga material untuk kemakmuran bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""