Kamis, 04 Agustus 2016

Tak Banyak Anak yang Paham tentang EkstraTeater


         
POSE: Ekspresi dalam foto bareng saat temu awal ekstra.
Hari pertama masuk ekstra teater, terlihat banyak yang datang. Anak-anak lama dan baru. Anak lama adalah anak-anak yang sudah naik kelas (yang sudah pernah mengikuti ekstra ini). Anak baru adalah peserta didik baru. Yang kelompok anak-anak baru jumlahnya banyak. Semua wanita. Anak-anak lama, ada satu laki-laki. Jadi, boleh dikata pengikut ekstra teater kebanyakan anak-anak wanita.

            Entah mengapa demikian? Secara ilmiah (sekalipun sederhana) saya belum pernah menelitinya. Jadi, tidak mengetahui apa alasannya. Tetapi yang pasti adalah peserta didik baru yang menggabungkan diri di ekstra teater, tidak tahu menahu tentang ekstra ini. Saat perkenalan kenyataan itu terungkap. Sebab, kebanyakan dari mereka mengakui “kurang paham” ekstra teater itu yang seperti apa. Mereka terkesan hanya ikut-ikutan.

            Dan memang begitu yang terjadi dari tahun ke tahun. Kesannya, hanya pokoknya ikut, tanpa terlebih dahulu mengetahui apa sebenarnya ekstra teater itu. Berbeda dengan pengikut ekstra-ekstra yang lain. Mereka sudah terlebih dahulu paham akan ekstra yang akan diikuti, ekstra basket, sepak bola, karate, tari, dan kerawitan, misalnya. Yang kelompok ini, sebelum masuk ke ekstra, di dalam pikiran dan hatinya sudah ada gambaran atau bayangan.
EKSPRESIF: Improvisasi yang menginspirasi.  



            Hal itu mungkin (salah satunya) penyebab mengapa ekstra teater selalu mengalami penurunan jumlah pengikut. Dari awal masuk hingga pertengahan bahkan akhir, jumlah pengikutnya berkurang. Di awal masuk, banyak; di pertenghahan, masih lumayan; di masa akhir, tinggal sedikit. Anak-anak yang mengundurkan diri tak mendapatkan ilmu. Sementara, anak-anak yang “bertahan” dipastikan memeroleh ilmu berteater.
            Oleh karena itu, kelompok yang disebut terakhir itu saat ekstra teater selalu lebih bersemangat. Seperti yang saya lihat di pertemuan awal beberapa waktu yang lalu. Mereka ingin berimprovisasi. Bermain peran secara langsung, tanpa persiapan terlebih dahulu. Mereka tak merasa malu sekalipun ada banyak anak yang baru bergabung. Terbukti, mereka bermain dengan tanpa beban. Sangat ekspresif. Dan, ini fakta yang positif. Sebab, anak-anak yang baru bergabung setidak-tidaknya terinspirasi dan termotivasi. Mereka  terlihat nyaman menikmati dan tersenyum-senyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""