Sabtu, 03 Desember 2016

Bersemangatlah

Pagi-pagi kalian sudah berangkat ke sekolah. Hendak menuntut ilmu. Berguru kepada bapak dan ibu guru. Agar kalian menjadi anak yang berilmu. Lalu, kelak ketika sudah dewasa, kalian bisa menghidupi diri sendiri. Tidak bergantung kepada orang tua lagi. Itu yang tentu menjadi doa sebagian besar orang tua kalian. Oleh karena itu, setiap pagi, mereka melepas kalian dengan senyuman dan harapan. Meletakkan beberapa rupiah di genggaman tangan kalian. Agar kalian tetap kuat di sekolah. Memiliki energi untuk belajar. Di rumah pun pagi-pagi sekali sudah disiapkan sarapan. Semua itu dilakukan agar kalian nyaman saat belajar di sekolah.

Padahal, dalam waktu yang sama belum tentu perut mereka kenyang  sekalipun bekerja. Tetapi, aku yakin mereka tetap bersemangat. Karena wajah kalian terus terbayang di mata mereka. Terbayang bahwa kalian kelak lebih sukses daripada diri mereka. Jadi, beratnya beban kerja yang dihadapi terasa ringan. Mereka bisa sangat menikmati pekerjaan apa pun yang mereka hadapi. Tidak ada perasaan malu walau pekerjaan itu dipandang rendah oleh banyak orang. Tetap ditekuninya sekalipun pekerjaan itu tidak menghasilkan banyak uang. Panas hujan dihadapinya dengan ikhlas dan syukur. Sebab, wajah-wajah kalian menghibur seperti dendang lagu yang terus berputar tanpa henti.

Maka, harapan besar orang tua kalian itu tetaplah pegang dengan erat. Jaga dengan baik agar harapan itu tidak akan mengecawakan mereka. Waktu yang ada untuk belajar di sekolah manfaatkan dengan syukur dan seikhlas mungkin. Seperti ikhlas dan syukurnya orang tua kalian saat bekerja demi kalian. Gambaran wajah orang tua kalian beri ruang agar menghiasi hari-hari kalian di sekolah. Senyum, salam, dan doa mereka setiap melepaskan kalian berangkat ke sekolah biarkan menjadi lagu yang tidak pernah berhenti terdengar di batin dan telinga kalian. 

Dengan sikap demikian, waktu belajarmu tidak sia-sia disediakan. Kalian tetap terhibur saat belajar. Tidak merasa ada beban yang berat menekan kalian. Sekalipun mungkin kalian merasa ada mata pelajaran yang sulit. Dan, memang begitulah adanya. Mudah dan sulit bagai dua sisi keping mata uang. Keduanya selalu bersanding. Di satu sisi ada mudah, di sisi lain ada sulit. Orang tua kalian saat menghadapi pekerjaan juga begitu. Kadang menghadapi pekerjaan yang mudah, kadang sulit. Karena yang terbayang di mata mereka adalah wajah kalian, semangat bekerja mengubah semua yang sulit  menjadi mudah. Kukira kalian pun bisa begitu.

Yang penting, jangan menyerah. Sebab, sulit bukan berarti tidak dapat dipelajari. Aku yakin kesulitan yang kalian jumpai, tetap dapat dipelajari. Banyak sahabat yang mau membantu kalian. Bapak dan ibu guru juga siap menolong kalian.

Asal kalian terbuka. Katakan belum bisa kalau memang belum bisa. Katakan sudah bisa jika memang sudah bisa. Jadi, sahabat-sahabat kalian atau bapak dan ibu guru memiliki pegangan untuk membelajari kalian. Segala sesuatu yang akan diajarkan tidak sia-sia. Karena tepat mengenai sasaran. Apa yang kalian belum kuasai itu yang diajarkan. Dengan begitu, pikiran kalian menerima bagian yang tepat. Fokus pada bagian yang bagi kalian sulit. Bertanyalah jika belum bisa. Jangan malu bertanya. Sebab, banyak buktinya bahwa malu bertanya akan sesat di jalan. Sama halnya dengan jika kalian malu bertanya tentang materi pelajaran yang belum kalian tahu. Pasti kalian tersesat dalam pelajaran.

Aku yakin orang tua kalian jika tak mengerti hal yang harus dikerjakan saat bekerja bertanya kepada pemimpinnya. Ia akan berusaha mencari tahu. Sampai benar-benar mengetahui dan siap mengerjakan. Sehingga akhirnya hal yang harus dikerjakan itu bisa rampung dan hasilnya sangat memuaskan. Dengan demikian, profesi yang dijalani -apa pun itu- tetap akan melekat padanya. Kalau kebetulan bekerja pada orang lain, keahlian orang tua kalian tetap dibutuhkan. Dan, ketahuilah bahwa semua itu semata-mata untuk masa depan kalian. Ia bekerja siang malam, ibaratnya, hanya untuk bisa  mengantar kalian mencapai puncak hidup yang gemilang.

Oleh karena itu, teruslah semangat belajar. Seperti semangat orang tua kalian dalam bekerja untuk memeroleh hasil maksimal. Meskipun banyak kendala, orang tua kalian tak pernah menyerah. Kalian pun harus pantang menyerah. Tunjukkan bahwa kalian pun memiliki semangat seperti yang mereka miliki. 

Katakanlah sekolah kalian banyak kekurangannya, misalnya, tetapi jangan sampai hal itu menjadi perintang kalian menggapai cita-cita. Kekurangannya bisa saja karena bangunan kurang layak. Misalnya atap bocor jika musim penghujan seperti saat ini. Tuhan memberi akal budi kepada umat-Nya, termasuk kita, maka tentu tidak sukar mencari solusinya. Duduk agak behimpit-himpitan dengan teman, asal masih dapat belajar tidak menjadi persoalan. Toh jika tak sampai membuat  bernapas sesak manakala berhimpit-himpitan, masih memungkinkan kita belajar.

Dulu, genteng yang bocor itu pernah baru. Dibeli dari pembuat genteng yang juga mungkin diproduksi oleh tangan-tangan terampil ayah kalian. Karena nyatanya di desa kalian banyak industri genteng. Entah salah satu dari orang tua kalian ada yang memiliki usaha itu atau tidak. Aku tidak tahu. Yang aku tahu adalah banyak di antara kalian berayah sebagai pekerja di industri itu. Ayah kalian hanya sebagai buruh harian. Dibayar setiap sore jika di hari itu ia bekerja. Jika tidak bekerja, entah sakit atau datang ke sekolah karena memenuhi undangan sekolah karena kalian agak sedikit kurang tertib, ia tidak mendapat bayaran. Ini pasti mengurangi pemasukan keluarga.  Akibatnya, membuat ibu kalian mengirit yang tersisa untuk mencukupi kebutuhan harian. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""