Sabtu, 10 Desember 2016

Hormati

Keberangkatan kalian dari rumah ke sekolah jangan merasa terpaksa. Tersenyumlah sejak meninggalkan orang tua kalian di rumah. Di sepanjang perjalanan berangan-anganlah yang indah-indah di sekolah. Bertemu dengan teman, bapak dan ibu guru. Juga karyawan sekolah. Berjumpa dengan petugas-petugas yang membantu kalian. Misalnya, saudara yang jaga parkir. Bapak dan mas yang menyeberangkan kalian agar aman sampai di halaman sekolah. Sebab, jalan di depan sekolah kita ramainya bukan kepalang saat-saat pagi. Petugas penyeberang yang sudah akrab dengan kita itu besar jasanya kepada kita. Jika tidak ada mereka, kemacetan pasti terjadi di depan pintu gerbang sekolah. Dan, kita tak mudah bisa sampai ke halaman sekolah. 

Petugas yang menyapu halaman sekolah kita tak berbeda dengan jasa mereka yang menyeberangkan kok.  Sebab, pagi-pagi sekali sebelum kalian tiba di sekolah, mereka sudah ada di sekolah. Sibuk dengan sapu mereka masing-masing. Menyapu area sana, area sini. Sehingga, begitu kalian tiba di sekolah, halaman sudah bersih menyambut kedatangan kalian.  Tentulah hati kalian bergembira bukan, memandang sekeliling bersih, tanpa sampah berserakan di mana-mana? 

Pekerjaan mereka memang sederhana. Tetapi, jika kita mau memahami dengan hati,  betapa pekerjaan itu memberi pertolongan kepada kita. Tanpa keberadaan mereka di antara kita, kita pasti mengalami berbagai kesulitan. Aktivitas kalian dan kami di sekolah tidak akan berlangsung baik.  Pasti banyak kendala, yang merintangi, terutama angan-angan besar kalian. 

Oleh karena itu, aku mengajak kalian untuk bersikap hormat kepada mereka. Tidak hormat seperti hormat kita kepada Sang Merah Putih saat upacara bendera. Telapak tangan kanan kita angkat di depan kepala. Tidak. Hormat kepada mereka adalah dengan cara menghargai hasil pekerjaan mereka. Misalnya,  untuk bapak dan mas penyeberang. Saat mereka mengizinkan mobil dan motor atau sepeda melintas jalan, kalian nyelonong begitu saja melintang jalan. Maksud kalian tentu saja agar kalian cepat sampai di sekolah. Saat-saat kalian merasa terlambat masuk, perilaku seperti itu kadang kulihat. Aku sangat sedih. Karena, di antara kalian tidak menghormati mereka. Kasihan ikhtiar mereka bukan?

Hal yang sama saat kalian seenaknya membuang sampah di lingkungan sekolah. Area, terutama yang berada di luar kelas, sejak pagi sudah dibersihkan petugas. Kalian pasti mengetahui hal itu. Tidak ada selembar sampah pun yang mengotori halaman di saat pagi hari. Tapi, beberapa waktu kemudian, saat tiba waktu istirahat, sampah bungkus minuman atau makanan mulai bersebaran di mana-mana. Berserakan. Aku sering melihat beberapa di antara kalian belum dapat memanfaatkan tempat sampah yang ada. Sehingga, aku sering menegur kalian. Meminta supaya sampah yang kalian tinggalkan, kalian ambil dan membuangnya ke tempat sampah.

Ketahuilah bahwa perbuatan itu termasuk tidak menghormati orang lain, khususnya petugas kebersihan. Mereka menyapu  mengeluarkan tenaga. Sampai-sampai berkeringat, sekalipun pagi, karena area yang harus disapu relatif luas. Pakaian yang dikenakan kotor dan melekat sekenanya pada tubuhnya. Tidak seperti seragam kalian, bersih dan rapi.  Kalian besepatu menggendong tas, mereka bersandal memegang sapu. Begitu berbeda. 

Akan tetapi, mereka melakukan pekerjaannya dengan tulus. Tidak merasa malu mendapat pekerjaan yang mungkin sebagian orang, semoga tidak termasuk kalian, memandangnya sebagai pekerjaan yang rendah. Menurutku, pekerjaan serendah apa pun di mata orang-orang tertentu, jika dilakukan dengan suka cita, akan menurunkan berkat yang bermanfaat. Bukan tidak mungkin suatu saat dilimpahi pekerjaan yang lebih baik oleh Sang Khalik karena ia dapat melakukan pekerjaan kecil dengan baik. Bukankah sesuatu yang kita hadapi pada awal-awalnya adalah hal yang kecil, sederhana, dan biasa?  Rasanya tidak ada, begitu tiba-tiba langsung besar, hebat, dan luar biasa. Pasti berawal dari yang kecil berlanjut ke yang lebih besar. Bermula dari yang biasa berlanjut ke yang luar biasa. Kalian pun demikian.

Dulu, kalian pernah  bayi, bahkan sebelumnya kalian hanya zigot di rahim ibu kalian. Begitu lahir, muncullah bayi mungil. Lalu, berkembang menjadi kanak-kanak, anak-anak, tunas, remaja, pemuda, dewasa, dan seterusnya. Dari kecil ke besar. Dari sederhana ke rumit. Dari biasa ke luar biasa. Sadarkah bahwa sekolah kalian juga berawal dari rendah ke tinggi? Awal-awal kalian sekolah di TK, lalu SD, SMP, terus kelak ke SMA berlanjut ke PT.  Kalian saat belajar pun begitu. Awalnya belajar yang mudah-mudah, kemudian lambat laun belajar yang sulit-sulit. 

Oleh karena itu, apa pun yang tampaknya kecil, sederhana, dan biasa, tak bijak kita abaikan. Kita harus tetap memerhatikan secara serius. Secara bulat perasaan dan pikiran kita memedulikannya.  Tentu demikian juga kita memperlakukan apa dan siapa saja. Yang ada di hadapan kita, kita hadapi dengan rasa gembira dan hormat. Menangani hal yang tampaknya sederhana dengan sabar, tekun, dan gembira, aku yakin akan mendatangkan kebaikan. Tidak hanya bagi yang menangani, tetapi juga bagi orang lain. Demikian juga kiranya sikap kita terhadap jerih lelah orang lain, yang sekalipun banyak orang memandang remeh, tetap memberikan hormat setinggi-tingginya.

Orang yang bersangkutan pasti gembira. Bukankah membuat hati orang lain gembira menjadi doa bagi dirinya, juga bagi kita? Rasanya jika satu hal indah ini kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari, tentu termasuk kalian, seluruh jalan hidup kita menjadi lapang. Mari memulainya dari lingkungan diri kita sendiri. Dari keluarga kita; dari sekolah kita, misalnya. 

Sekarang juga. Mari kita lakukan. Tidak membuang sampah sembarangan di lingkungan sekolah. Tempat-tempat sampah yang sudah dijajar-jajar di depan kelas kalian harus dimanfaatkan dengan benar. Teman-teman kalian yang tergabung dalam duta adiwiyata sudah menyiapkannya dengan baik. Sampah-sampah harus dipilah sesuai dengan kategorinya. Sebab, sudah ada tempat sampah untuk yang anorganik, organik, dan secara khusus untuk gelas-gelas plastik bekas tempat minum. Kalian tinggal membuangnya di tempat-tempat tersebut. Teman-teman kalian yang duta adiwiyata secara berkala akan mengelolanya.   

Dikumpulkan di bak sampah di belakang sekolah. Sampah-sampah yang jenis organik dikomposing. Dibuat pupuk alami. Yang dapat digunakan memupuk tanaman-tanaman yang ada di lingkungan sekolah. Sedangkan, yang jenis anorganik dikilokan, dijual, di  pusat penerima rosok. Untuk komposing dan pengiloan rosok, ditunjuk beberapa karyawan sekolah menanganinya yang dibantu anak-anak duta adiwiyata. Dalam momen tertentu, sampah jenis anorganik juga dipakai bahan untuk lomba keterampilan. Hasil karya keterampilan kalian rata-rata bagus. Beberapa dipajang di sekolah untuk hiasan ruang. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""