Selasa, 06 Desember 2016

Kalian Hebat

Hal mengirit itu memang baik. Akan tetapi, dalam kondisi kekurangan, itu namanya bukan mengirit. Tetapi mencukup-cukupkan yang tersisa agar tetap bisa bertahan hidup. Sekalipun cukup,  hanya mentok sampai batas minimal. Yang penting ada. Sehingga, sering tidak mempertimbangkan “yang ada” itu bermutu atau tidak? Bermanfaat atau tidak?  Tentu berbeda dengan jika ada banyak persediaan. Memanfaatkan ada banyak persediaan dan cara menggunakannya sesuai dengan kebutuhan, itu namanya baru mengirit. Menghemat. Bukankah hemat pangkal kaya? Dan, slogan semacam itu dapat kita temukan di dinding ruang kelas kalian. Slogan yang diharapkan dapat menginspirasi kalian. Agar kalian tidak berlaku boros. Tidak menghambur-hamburkan yang ada pada kalian.

Kalau slogan itu akhirnya menjadi jiwa kalian, itulah buah belajar. Jadi, buah belajar tidak hanya kalian bisa membaca, menulis, dan menghitung, tetapi bisa hidup hemat itu salah satu hasil belajar. Dan, kalian tahu? Perihal itu yang menjadi harapan kami, tentu orang tua kalian juga. Orang tua kalian pasti bahagianya bukan kepalang. Karena sikap hemat kalian dapat membantu beban mereka. Orang tua tidak terus-terusan memberi uang saku. Karena uang saku hari ini selalu kalian lebihkan untuk besok. Itu artinya, besok orang tua kalian tidak perlu memberi uang saku. Jatah uang saku kalian besok dapat untuk menambah pos kebutuhan keluarga. Jadi, secara tidak langsung, sikap hemat kalian dapat meringankan beban keluarga.

Kalau kalian boros, apa jadinya? Beban orang tua bertambah berat. Karena terdorong untuk memenuhi keinginan kalian. Semakin berat lagi kalau penghasilan orang tua kalian pas-pasan. Orang tua kalian bisa-bisa mengada-adakan. Caranya, pinjam sana pinjam sini. Yang penting keinginanmu terpenuhi. Coba bayangkan. Bagaimana pontang-pantingnya orang tua kalian. Kasihan bukan?

Mungkin orang tua kalian hendak menolak keinginan kalian itu. Tetapi, ia tidak memiliki daya untuk menolak. Sebab, jika keinginan kalian tidak dipenuhi, kalian mogok sekolah. Aku sering menerima keluhan orang tua kalian tentang hal itu. Tak perlu kusebut namanya di sini. Sebab, jika kusebut namanya dan kalian membaca tulisan ini, kalian bisa marah-marah kepadanya. Orang yang patut kalian hormati, hanya karena ego, kalian luapkan segala amarah kepadanya. Dan, beberapa orang tua kalian menceritakan bahwa di antara kalian ada yang sering marah-marah. Kepada ibu. Juga kepada ayah.

Mungkin kalian belum menyadari hal itu tak boleh kalian lakukan. Karena pikiran dan hati kalian dikuasai iblis. Iblis yang jahanam dapat membuat orang tidak sadar. Ingatkah kalian tentang jatuhnya Adam dan Hawa dalam dosa? Bukankah mereka diperdaya oleh si iblis yang wujud dirinya sebagai ular. Iblis dapat menguasai pikiran dan hati Hawa. Sehingga, Hawa makan buah pengetahuan baik dan jahat. Yang akhirnya Adam terbawa juga dalam kendali iblis yang sudah merasuk di jiwa Hawa. Keduanya akhirnya jatuh dalam dosa. Itu semua karena mereka tidak menyadari kalau perbuatannya akan mengakibatkan mereka kehilangan  damai.

Tentu kalian tidak mau kehilangan damai dalam keluarga bukan? Sebab, hal itu didamba oleh semua keluarga. Rasanya tidak ada kok keluarga yang ingin kehilangan damai dalam keluarganya. Damai yang sudah ada pasti terus dijaga keberlangsungannya. Tidak sedetik pun dibiarkan lepas. Sebab, jika sudah lepas, rumah bisa menyerupai neraka. Sekalipun aku tidak tahu persis seperti apa neraka itu, tapi catatan-catatan dalam Alkitab, menggambarkan bahwa neraka itu menakutkan. Di sana ada tangis dan kertak gigi.

Maka, sadarilah bahwa memaksakan keinginan itu tidak baik. Tidak baik bagi siapa saja. Bagi orang tua kalian, saudara kalian, dan kalian sendiri. Akibat yang ditimbulkan sangat tidak mengenakkan. Jadi, menurutku -tentu juga menurut orang tua kalian- tidak perlu menuruti semua keinginan. Ada kalanya keinginan dituruti. Tapi, ada kalanya keinginan disingkiri. Apalagi keinginan-keinginan yang kita tahu persis berakibat buruk. Harus kita jauhi. Dan, kalian pasti bisa menjauhinya.  

Kalian anak-anak hebat. Sangat mudah bagi kalian menjauhi keinginan-keinginan yang berakibat buruk. Kehebatan kalian dapat memusnahkan keinginan-keinginan yang buruk itu. Sehingga yang bersemayam dalam diri kalian  adalah sikap dan kepribadian yang terpuji. Menghormati dan menjunjung tinggi keberadaan orang tua. Juga saudara. Orang-orang lain yang kalian kenal. Bahkan, orang-orang yang belum kalian kenal sekalipun tak merugikan jika kalian bersikap hormat. Siapa pun, termasuk aku, pada akhirnya menaruh hormat dan bangga kepada kalian. Apalagi orang tua kalian. Tentu rasa hormat dan bangganya terhadap kalian tak terukur dengan logika apa pun.

Karena, mereka merasa menyekolahkan kalian tidak sia-sia. Seberapa pun biaya yang mereka keluarkan untuk sekolah kalian disikapinya dengan suka cita. Keberhasilan kalian dalam belajar menjadi pengganti yang nilainya jauh lebih besar. Yang melebihi biaya, tenaga, pikiran, waktu, dan perasaan yang telah dipersembahkan orang tua kalian demi anak tercinta. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""