Kamis, 08 Desember 2016

Perjuangan

Memang semua itu butuh perjuangan. Tidak berjuang menumpas penjajah seperti yang pernah dilakukan nenek moyang kita.  Namun perjuangan kalian tidaklah ringan. Aku tahu itu. Sebab, hampir setiap hari aku bertemu dengan kalian. Begitu langkah kaki kalian memasuki gerbang sekolah, mataku lekat memandang. Bahkan, di jalan tak jarang kita beriringan.

Bagaimana perjuanganmu mengayuh sepeda. Berhati-hati mengambil jalur tepi karena saat kalian berangkat ke sekolah, jalan begitu ramai. Di sepanjang jalan itu motor dan mobil berlalu lalang. Hampir-hampir kita tidak kebagian jalur bersepeda.  Badan jalan penuh kendaraan bermotor. Satu dua ada yang ugal-ugalan. Lengah sedikit bisa terserempet. Sebab, rata-rata kendaraan bermotor melaju cepat.  Aku melihat semua itu dan mencatatnya lekat dalam benakku.

Ada juga di antara kalian yang mengendarai motor. Ada yang berdua, ada yang bertiga. Cara mengendarai sambil bergaya. Helm yang harus kalian kenakan menutup kepala, sering hanya kalian pangku atau pegang sembari mengemudi motor. Bercanda tawa di atas motor pun kalian lakukan. Belum lagi jika diteliti, kalian pasti belum ber-SIM. Sebab, umur kalian belum memenuhi syarat untuk memiliki SIM. Kalian masih terlalu dini mengendarai motor.

Bagiku, ini perjuangan kalian dengan cara yang keliru. Sudah sering diingatkan bapak dan ibu guru di sekolah. Bahkan, peringatan tidak boleh mengendarai motor saat bersekolah juga disampaikan pada saat ada upacara bendera. Tidak sekali. Tapi, telah berulang kali disampaikan di depan kalian. Namun, tak mengurangi jumlah kalian yang bermotor saat bersekolah.

Akhir-akhir ini justru bertambah jumlahnya. Ada di antara kalian yang dulu bersepeda, sekarang bermotor. Ada yang dulu cukup diantar orang tua, sekarang mengendarai motor sendiri. Perubahan ini bisa saja karena pengaruh teman kalian. Kalian yang lebih dahulu bermotor memengaruhi yang lain. Begitu mudah pengaruh itu menelusup ke jiwa anak seusia kalian. Aku pun dulu pernah merasakannya. Betapa jiwaku mudah digoyah. Saat beberapa teman setiap sore bersepeda muter-muter di jalan desa, dadaku rasanya terus berdegup. Mengingini seperti yang mereka lakukan.  Tapi, aku harus menahan degup dada itu supaya tidak terbawa arus teman-temanku. Sebab, aku tahu bahwa orang tuaku tidak akan mengizinkan. Orang tuaku tegas karena menurutnya hal itu tidak ada untungnya bagiku. Di samping memang orang tuaku tidak memiliki uang untuk membelikan sepeda.

Jadi, akhirnya aku berpikir, boleh jadi kalian mengendarai motor saat bersekolah itu karena orang tua kalian kurang mempertimbangkan untung ruginya bagi kalian. Atau, sudah mempertimbangkannya masak-masak. Tapi, menurut orang tua kalian banyak untungnya saat kalian bermotor sendiri. Sebab, orang tua kalian tidak perlu mengantar kalian. Aktivitasnya jadi tidak terganggu. Di samping itu tentu, orang tua kalian memiliki uang untuk membelikan motor. 

Aku tidak tahu, apakah orang tua kalian mengerti atau tidak akibatnya, anak seusia kalian mengendarai motor. Kondisi emosional anak-anak seusia kalian masih sangat labil. Sehingga dalam situasi agak tegang sedikit, belum tentu kalian mampu mengendalikan laju motor. Akibatnya fatal bagi kalian. Juga bagi pengguna jalan yang lain. Ini aku bayangkan dari sisi kecelakaan.

Dari sisi pendidikan juga ada dampak yang tidak baik. Membiarkan anak-anak mengendarai motor tanpa memenuhi persyaratan pengendara, mengajarinya melanggar hukum yang berlaku. Ini disadari atau tidak, lambat laun membentuk pola pikir mereka bahwa melanggar sebagai hal yang biasa. Dan, bukan mustahil akhirnya menjadi karakter yang terus terbawa hingga dewasa. Ini yang menyedihkan bagi kami, guru-guru. Sebab, kami di sekolah mendidik anak-anak mematuhi tata tertib, tetapi di luar sekolah terbiasa melanggar aturan.

Kondisi ini tentu tidak menguntungkan kalian. Sebab, kalian menjejak pada dua bidang yang bertolak belakang. Bukan tidak mungkin jiwa kalian akhirnya terbelah. Kurang memiliki prinsip. Mudah berubah karena pengaruh ini dan itu. Tidak berani mengambil keputusan karena kalian bimbang. Kalau sudah begini, kalian akan kalah di kala memasuki kancah kompetisi.      

Kompetisi dalam lomba antarsiswa di sekolah kalian saja, misalnya, dibutuhkan keteguhan prinsip. Jika tidak memiliki prinsip yang teguh atau kuat, pastilah kalah dengan peserta yang lain. Predikat pemenang tidak pernah kalian raih. Lebih berat lagi jika lomba siswa antarsekolah. Karena kalian belum mengenal peserta lain. Bisa grogi karena belum  mengenal lawan. Tetapi, jika kalian sudah memiliki prinsip yang kuat, belum atau sudah kenal, tidak menjadi masalah. Kalian akan tetap memasuki situasi lomba dengan psikis dan fisik yang hebat. Itu jiwa pemenang. Kalian bisa kok seperti itu.

Hanya, kalian harus berusaha berperilaku benar. Baik itu di sekolah maupun di masyarakat. Hormati aturan yang ada. Jika memang belum waktunya boleh bermotor, cukuplah menaiki sepeda. Bahkan, sekalipun ada peluang besar bagi kalian bisa mengendarai motor, karena ada motor dan orang tua mengizinkan, bertahanlah untuk tidak mengendarainya. Bertahan memang bukan pekerjaan yang ringan. Tetapi, jika kalian berhasil bertahan, di situlah awal kehebatan kalian mulai tampak. Terhadap hal-hal lain yang serupa di kemudian hari, kalian akan melewatinya  dengan mudah.   Kalian pasti merasakan nyaman-nyaman saja. Sekalipun bagi orang lain mungkin dipandangnya berat. Sebaliknya, jika benteng pertahanan kalian jebol, yang akhirnya kalian mengendarai motor, misalnya, meski melanggar aturan, di situlah awal kehancuran kehebatan kalian. Karena, bukan tidak mungkin akhirnya melanggar aturan (apa pun) menjadi  perilaku biasa pada diri kalian.

Jadi, tinggal kalian. Mau memilih yang mana? Bertahan sampai batas waktu tertentu. Atau, membiarkan pertahanan kalian jebol terserah kapan waktu kalian maui. Semua tergantung kalian. Sebab, hidup ini selalu dihadapkan pada pilihan. Hidup atau mati. Putih atau hitam. Siang atau malam. Hal-hal yang berseliweran di sekitar kita hanya sebatas menawarkan. Jika kalian mau, ambil saja. Jika kalian tidak mau, buang saja. Jika kalian bimbang, mintalah bimbingan kepada orang-orang berkemampuan di bidangnya. Agar saat memilih, kebimbangan telah hilang. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""