Selasa, 24 Januari 2017

Bersahabat dengan Alam

Hal yang barangkali sama teralami oleh para tetanggaku, baik yang bekerja di pabrik maupun yang tetap setia sebagai petani. Sebab, hingga saat ini pun mereka tetap melakukan pekerjaan itu dengan disiplin. Para perempuan, baik ibu-ibu maupun para gadis, saat hari masih pagi sudah berangkat ke tempat bekerja. Ada yang mengendarai motor, menaiki sepeda, ada pula yang berjalan kaki.  Yang mengendari motor, ada yang sendirian, ada yang diantar suaminya, anaknya, atau saudaranya.  Jadi, ketika jam-jam orang berangkat bekerja, jalan-jalan kampung di desa kami, sangat ramai. Belum lagi anak-anak sekolah  yang juga melewati jalan yang sama.  Keramaian jalan mulai surut selepas pukul tujuh pagi.

Sementara itu, para lelaki yang memilih bertani, di antara mereka ada yang sudah berangkat ke sawah selepas subuh. Sangat pagi. Keadaan sekitar masih gelap andai lampu jalan dimatikan. Tetapi, bersawah di pagi gelap sudah menjadi kebiasaan di antara mereka. Alasan yang sering kudengar dari mereka adalah turun ke sawah pagi-pagi tidak menguras tenaga karena belum ada sinar matahari. Udara sejuk sangat menolong energi tak cepat menghilang. Maka, aku tak heran jika sewaktu aku  berangkat bekerja, mereka pulang dari sawah. 

Barangkali Anda bertanya-tanya, mengapa dalam keadaan yang masih gelap mereka dapat bersawah? Bukankah di sawah tak ada penerangan? Itulah barangkali keistimewaan mereka. Orang lain, seperti aku, tak dapat bekerja dalam keadaan gelap, tapi mereka dapat. Padahal, beberapa di antara mereka sudah tua, yang lazimnya kecerlangan pandangan matanya sudah berkurang. Barangkali ini bukti keadilan Tuhan. Sekalipun sudah usia tua, karena mereka memiliki semangat bekerja di kala keadaan masih gelap, Tuhan memberi kualitas mata yang sempurna.

Mereka pun tak takut atau khawatir terhadap binatang liar yang siap mencelakainya. Karena bukan tidak mungkin ular tiba-tiba menggigit kaki mereka saat  ular merasa terganggu karena tempat  istirahatnya terinjak atau tercangkul. Tetapi toh begitu aku belum pernah mendengar di antara mereka tercelakai binatang liar. 

Aku tak hendak mengada-ada terkait dengan kenyataan itu. Δ¶arena nyatanya hingga sekarang aku tak pernah mendengar laporan-laporan tentang mereka tercederai binatang liar sehabis bersawah. Logika sederhanaku  begini. Mereka adalah orang-orang yang begitu dekat dengan alam. Tentu mereka sudah akrab dengan semua makhluk yang ada di sawah. Pun demikian tentunya makhluk-makhluk itu akrab dengan mereka. Alam dan seisinya telah menjadi bagian hidup mereka. Jadi, ibaratnya sudah seperti keluarga sendiri. Bukankah akhirnya terjalin saling menjaga dan melindungi? Nah, mungkin karena keharmonisan yang ada itu, akhirnya tak ada risiko apa pun.  Semua berlangsung secara baik.   

Hal yang tampaknya sederhana, bagaimana dalamnya keakraban tubuh mereka dengan air sawah. Jangan Anda bayangkan kondisi air pengairan sawah, bersih. Tidak. Air pengairan sawah di daerahku kotor. Sebab, air yang mengalir ke petak-petak sawah adalah air hujan. Air hujan yang berasal dari area perumahan yang letaknya lebih tinggi daripada sawah, mengalir ke sungai kecil yang membelah sawah, yang akhirnya sampai ke lahan sawah. Dan, sangat mungkin air itu bercampur dengan air limbah keluarga. Warnanya cokelat. Tak layak untuk membersihkan tubuh. Tapi nyatanya,  mereka juga memanfaatkan air itu untuk membersihkan tubuh dari lumpur sawah yang melengketi tubuh mereka. Meski begitu, tak pernah kudengar ada yang menderita gatal-gatal pada kulit mereka. Bagiku, ini adalah keajaiban. Kulit tubuh mereka sangat adaptif dengan air yang ada.

Masih lumayan jika hujan masih gencar. Sebab, air di sungai masih lancar mengalir. Jadi, kesannya tidak begitu kotor. Tapi, jika hujan mulai berkurang, air sungai malas mengalir. Beberapa meter mengalir. Lantas berhenti di suatu tempat dan menggenang. Di tempat air menggenang itu, biasa mereka membersihkan tubuh. Sekalipun demikian, sepertinya tidak ada persoalan.

Sangat berbeda dengan air persawahan di desa asalku. Apalagi ketika aku masih kecil. Air untuk mengolah tanah sawah berasal dari air pegunungan. Air sumber. Artinya, air yang dihasilkan dari sumber. Yakni air tanah, yang dihasilkan dari proses alam. Jadi, airnya jernih dan sejuk. Sewaktu kecilku, air yang mengalir menuju sawah, banyak dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci pakaian. Mulai dari hulu hingga hilir, di sepanjang kali pasti dapat dijumpai orang-orang yang beraktivitas seperti itu.  Meski penuh aktivitas yang demikian, air tetap jernih dan segar. Sebab, volume air masih lebih banyak daripada orang yang memanfaatkan dan terus mengalir karena sumbernya tak pernah habis. 

Aku sendiri dan beberapa teman ketika masa kecil sering bermain-main di sungai. Bertelanjang menceburkan tubuh ke dalam air mendapatkan sensasi yang luar biasa. Sebab, sekalipun tubuh kami tenggelam dalam air, mata kami yang berada di permukaan air masih jelas melihat tubuh kami yang tak jarang tersundut-sundut mulut ikan. Menimbulkan rasa geli. Dan, saat jemari kami mendekatinya, buru-buru ikan menjauh. Menyembunyikan diri di balik batu-batu. Pemandangan itu jelas di mata kami.  Seperti akuarium.

Meski matahari telah tinggi, kami tak merasakan panas. Karena dingin air sungai memberikan keseimbangan rasa pada kulit tubuh kami. Jadi dingin tidak, panas pun tidak. Cukup hangat. Dan, rasa itu membuat kami segar. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""