Kamis, 26 Januari 2017

Kehilangan

Setelah lebih kurang 35 tahun meninggalkan desa asal, aku kehilangan keelokan sungai saat mengunjunginya bersama keluarga setahun yang lalu. Tak kujumpai lagi tempatku bermain bersama teman-teman sewaktu kecil. Sungai itu tinggal menyisakan sedikit air yang terlihat malas mengalir. Lebar sungai yang kuperkirakan 12 meter dan teraliri air jernih ketika itu, kini menciut. Tinggal lebih kurang dua meter. Itu pun tidak semua teraliri air. Air hanya menceleret di bagian tengahnya, lambat mengalir dan tersendat-sendat. Aku yang biasanya tegar, air mataku mendadak menerobos keluar seolah lebih deras ketimbang aliran air sungai yang kupandang itu. Gila benar! Aku mengutuk. Tapi, entah kutujukan kepada siapa.

Beberapa teman yang masih bertahan tinggal di desa kesaksiannya masih kuingat benar. Saat musim hujan seperti ini, sungai banjir. Tapi, banjir lumpur. Airnya keruh kecokelatan. Jika berusaha meraihnya dengan telapak tangan, pastilah bukan air yang teraih, tapi lumpur memenuhi telapak tangan kita. Maka, begini lanjutnya, anak-anak kami tak kami izinkan bermain-main di tepian sungai saat banjir seperti yang selalu kita lakukan di masa kecil dulu. 

Ya, di masa kecil, musim hujan bagiku  dan teman-teman adalah saat kebahagiaan tiba. Sebab, kami cuti menggembalakan ternak. Ternak-ternak kami manjakan di kandang. Kami menyediakan makan untuk mereka. Rerumputan atau dedaunan sudah kami timbun di rumah terlebih dahulu. Saat ternak-ternak kami menikmati makanan dan kehangatan dalam kandang, kami bermain-main di pinggir sungai. Bermain pasir dan menaklukkan derasnya banjir. 

Pasir yang menggunung di tepian sungai kami gunakan area untuk bermain. Berkejar-kejaran dan lempar-melempar pasir. Sekalipun tubuh kami terlempar pasir, tak ada di antara kami yang marah-marah. Kami justru merasakan kegembiraan yang luar biasa. Sebab, sewaktu tubuh kami penuh dengan pasir, kami pasti langsung menceburkan diri ke air sungai bagian tepi. Begitu kami muncul ke permukaan air, tubuh kami telah bersih kembali. Tanpa sebutir pasir pun lekat di tubuh. Untuk melepaskan pasir yang menempel di tubuh memang tidak perlu menggosok-gosoknya. Cukup mencelupkan tubuh ke air, pasir dapat rontok semua. Inilah kekhasan pasir. Sehingga, kami lebih senang bermain pasir ketimbang tanah, apalagi tanah liat.

Saat seperti itu pasir di desa kami sangat banyak. Sudah mengumpul secara alami. Terseret arus air dan mengumpul di tepian sungai. Bahkan, jika terjadi banjir besar yang hingga  melanda sawah di sepanjang tepian sungai, pasir menghampar di petak-petak sawah. Menimbuni tanaman padi. Merugikan para petani, yang tidak lain adalah orang tua kami. 

Kejadian seperti ini sudah biasa. Hampir terjadi di setiap musim penghujan. Oleh karena itu, orang tua kami tidak terlalu sedih. Barangkali sudah kebal. Bagi orang lain yang tidak pernah mengalaminya pasti sedih. Karena sudah bekerja keras, tapi tak bisa menuai hasil. Sebab, bibit padi yang baru ditanam tak mungkin bisa hidup karena rusak. Tapi, kalau padi sudah berbulir sekalipun muda, masih bisa dimanfaatkan. Padi muda dipanen. Bulir-bulirnya ditumbuk. Diambil isinya, kemudian dimasak dan diurap dengan kelapa muda, jadilah sajian khas lokal yang membuat orang ketagihan. Kami menyebutnya, emping. 

Kalau padi sudah berbulir tua, orang tua kami berusaha untuk memanennya. Hanya, harus menyiapkan tenaga ekstra. Sebab, harus mengeluarkan dahulu dari timbunan pasir. Setelah rumpun padi kelihatan, baru dilakukan pemotongan. Kegiatan berikutnya, merontokkan bulir-bulir padi dari tangkainya dengan alat perontok tradisional. Orang tua kami tidak dapat melakukan sendiri. Karena tenaga terbatas. Untuk itu, biasanya harus mengupah beberapa orang untuk merampungkan pekerjaan itu. Jadi, dalam kondisi seperti itu, orang tua kami tidak memeroleh untung. Cukuplah yang terpenting padi dapat dipanen daripada dibiarkan membusuk tertimbun pasir.       

Pasir yang setelah aku berkeluarga sangat tinggi nilai jualnya, dahulu tidak bernilai jual. Sebab, rumah-rumah kami waktu itu masih berlantai tanah dan berdinding anyaman bambu. Atau paling-paling berdinding kayu bagi keluarga mampu. Jadi, pasir yang menggunung di petak-petak sawah yang berada di daerah aliran sungai (DAS) dipinggirkan ke bibir sungai begitu saja, tanpa termanfaatkan. Lambat laun pasir itu berkurang karena hanyut terkikis arus air. 

Pasir yang masih menggunduk umumnya yang berada di sisi lubuk sungai. Lubuk sungai terbentuk secara alami. Berada di setiap belokan sungai. Pada belokan sungai seperti itu, air tidak langsung mengalir, tetapi berputar-putar dulu. Dan, perputaran arus air itu lambat laun membentuk lubuk, tempat air berkumpul. Di bagian lubuk ini, dasar sungainya relatif dalam. Di tempat inilah kami sering bermain, yakni berenang dan berloncat dari ketinggian tertentu dari atas lubuk. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""