Senin, 23 Januari 2017

Seadanya

Di tempatku berdomisili, warga asli tidak banyak yang menjadi pegawai. Yang kumaksud warga asli adalah warga yang sejak dilahirkan, dibesarkan, hingga dewasa, bekerja, dan bekeluarga di tempat ini. Mereka banyak yang menjadi karyawan pabrik. Sebab, desa kami memang dekat dengan lokasi banyak pabrik. Jadi, andai mereka pergi-pulang pabrik tidak harus mengendarai motor atau mobil. Berjalan kaki saja mereka dapat menjangkau dan kupastikan tidak terlalu melelahkan. Dari orang tua hingga anak bahkan cucu, secara berkelanjutan dapat bekerja di pabrik. Beberapa warga mengatakan bahwa warga kelahiran setempat mendapat prioritas diterima bekerja di pabrik tersebut. Tentu ada kriteria yang lain.

Barangkali karena itu, generasi mudanya tidak banyak yang sekolah tinggi-tinggi, sampai perguruan tinggi. Mereka banyak yang bersekolah sampai di tingkat pendidikan menengah. Terutama SMK, sebagai sekolah pilihan yang paling favorit. Orang tua mereka memang  menyarankan agar mereka sekolah di SMK. Memilih jurusan mesin, listrik, atau bagi yang perempuan jurusan perkantoran. Karena, begitu lulus, mereka dapat langsung bekerja di pabrik.

Hanya sampai pada pemikiran seperti itu. Cukup bekerja di pabrik. Menikah dan berkeluarga. Tidak terpikirkan keberadaan pabrik dalam masa perkembangannya kemudian. Bagaimana keberadaan pabrik di waktu kelak. Pabrik tetap eksis atau mungkin mengalami kebangkrutan. Seakan-akan tak ada pikiran berspekulasi seperti itu.

Orang-orang yang termasuk generasi tua, yang tentu saja tidak mengenyam pendidikan seperti generasi yang lebih muda, tetap bekerja sebagai petani. Kukira tempat kami berdomisili dulunya banyak area persawahan. Sebab, banyak generasi tua yang hingga sekarang berprofesi sebagai petani. Dan, area sawah masih terlihat menghampar.

Dapat ditebak bahwa hamparan tanah sawah di sebelah desa kami, yang sekarang masih dapat kami lihat, ukurannya dulu pasti sangat luas. Hanya, karena perkembangan pemukiman, tanah pertanian itu  sekarang menjadi sempit. Sebagian menjadi lahan tempat tinggal. Meski demikian, masih ada tersisa generasi tua, bahkan beberapa angkatan muda, yang setia bersawah.    

Ya bersawah saat musim hujan seperti saat ini sangat tepat. Sebab, area pertanian tersebut berlimpah air. Air hujan. Sehingga warga yang bertani dapat mengolah sawah. Bercocok tanam. Dalam fase bercocok tanam ini ada fenomena yang menarik. Sebab, orang-orang yang bercocok tanam padi yang umumnya para perempuan itu, tidak dilakukan oleh para perempuan desa kami. Tetapi, perempuan dari desa lain. Sementara perempuan desa kami banyak yang bekerja di pabrik.      

Oleh karena itu, saat musim bercocok tanam padi, di pagi-pagi buta di jalan depan rumah kami, jalan tembus ke sawah, sudah ramai orang lewat. Mereka para perempuan desa sebelah untuk bekerja dengan upah harian bercocok tanam padi. Soal pakaian yang dikenakan tak perlu aku menceritakannya. Sebab, Anda pasti sudah mengerti seperti apa pakaian yang mereka kenakan. Di sini yang hendak kujelaskan adalah sikap kebersamaan mereka. Saat mereka berangkat, misalnya, berjalan beriringan sembari berbincang-bincang. Seolah tak terganggu oleh keadaan sekitar. Begitu ternikmatinya waktu itu untuk berbicara. Tapi, aku tak tahu persis apa yang mereka bicarakan. Sebab, hanya terdengar samar-samar. Apalagi aku pun tak secara khusus mendengarkan pembicaraan mereka. 

Padahal, andai aku berupaya mendengarkan apa yang mereka perbincangkan, pasti aku mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan tentang anak-anak mereka, suami mereka, ekonomi keluarga, dan sejenisnya yang mereka perbincangkan. Tapi tindakan itu tak mungkin bisa kulakukan. Sebab, mereka melakukan perbincangan sambil berjalan. Mana mungkin aku dapat membuntuti mereka dengan maksud merekam perbincangan mereka. Tentu saja tidak etis dan aku belum melihat ada kepentingannya secara khusus. 

Namun ada perilaku mereka yang dapat kurekam melalui mataku. Saat mereka hendak turun ke petak-petak sawah dan mulai menanam bibit padi, mereka bergerombol di satu tempat, di tepian jalan. Membuka bawaan mereka, yang ternyata makanan. Masing-masing sudah siap di tangan mereka. Nasi dan lauk yang terlihat sederhana mereka nikmati. Terlihat begitu asyik. Tak menghiraukan banyak orang, termasuk aku, yang lewat di jalan dekat mereka bergerombol. 

Inilah pemandangan nikmatnya orang-orang kurang berada yang boleh jadi sulit dialami oleh orang-orang berada. Kenikmatan alamiah mensyukuri berkat Tuhan tidak harus di warung makan atau restoran. Di pinggir jalan dengan tetimpuh suara deru mesin kendaraan yang lalu-lalang pun kenikmatan hidup dapat teralami. (bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""