Senin, 06 Maret 2017

Belajar yang Melibatkan Emosi Mengubah Perilaku

Sampah tersimpan di laci meja menjadi bukti bahwa anak-anak didik saya belum peduli terhadap kebersihan (dan juga kesehatan). Di keempat kelas yang saya masuki saat mengajar masing-masing dua hari dalam seminggu, setali tiga uang alias sama saja. Perilaku buruk menyimpan sampah (bungkus jajan dan minuman) di laci-laci meja masih mereka lakukan. Dan sekalipun begitu, fakta menunjukkan, tidak ada satu pun di antara anak didik saya mengakui perilaku buruk itu.
Tidak adanya pengakuan itu mengisyaratkan bahwa mereka jauh dari sikap jujur. Penyebutan kata mereka seolah-olah mendakwa semua anak didik di kelas tersebut tidak jujur. Saya katakan tidak. Sebab, di antara mereka tentu ada yang memiliki perilaku baik, yaitu membuang sampah di tempatnya, hanya tàk mau mereka dikatakan sok baik oleh teman-temannya sehingga diam saja.  Karena tidak adanya pengakuan sekurang-kurangnya satu di antara mereka, saya terpaksa menggunakan  sebutan mereka. 

Semoga anak didik saya yang sudah berperilaku terpuji tidak merasa tersinggung. Saya sulit membedakan mana yang suka membuang sampah di tempat sampah dan yang menyimpan di laci meja.  Di samping tidak ada pengakuan, juga tidak ada yang mau menunjukkan siapa di antara mereka yang berbuat tidak bertanggung jawab itu. Padahal, saya yakin di antara mereka ada yang mengetahui perilaku buruk teman. Tentu Anda sangat paham jika, terutama, menunjukkan keburukan perilaku teman ada risiko buruk yang ditanggung. 
Melihat kenyataan ini, saya dan tentu juga semua guru, memiliki tanggung jawab moral untuk mengubah perilaku buruk menjadi baik yang berdampak positif pada lingkungan. Fenomena sampah dalam laci meja anak didik dapat menjadi sumber belajar. Saya arahkan materi pembelajaran Menyampaikan Persetujuan dan Penolakan ke fenomena tersebut sekalipun sebenarnya ke pendapat tokoh. Berpendapat, menyetujui atau menolak, dapat berangkat dari apa yang dilihat, tidak harus apa yang didengar. Atas pemikiran tersebut, anak didik saya akhirnya saya motivasi menyampaikan pendapatnya tentang fenomena sampah yang mengumpul di dalam laci meja mereka. Ini berlaku untuk semua anak saat kami melangsungkan pembelajaran tersebut. Baik anak yang laci mejanya ada sampahnya maupun tidak.
Semua pendapat anak didik saya, ternyata satu pun tidak ada yang menyetujui. Artinya, mereka menolak  kebiasaan buruk menyimpan sampah dalam laci meja. Bersumber dari pendapat mereka itu, saya lalu mengajak mereka untuk tidak mengulangi perilaku buruk  tersebut pada hari-hari berikutnya. Saya katakan, pendapat mereka harus dapat diwujudkan dalam praktik hidup di sekolah. Bukankah harga diri itu akan ditentukan oleh perkataan yang sesuai perbuatan?

Dan, saya dapat menemukan fakta yang menyenangkan saat pembelajaran hari berikutnya. Karena laci-laci meja mereka untuk menyimpan alat-alat tulis. Laci meja difungsikan sebagaimana mestinya. Saya mengecek beberapa kali pertemuan di hari-hari berikutnya saat jam-jam pembelajaran saya. Anak-anak didik saya mulai dapat mewujudkan kondisi bersih.  
Saya senang sebab mereka mengakui bahwa perubahan ini tidak hanya terjadi pada saat saya mengajar. Hal ini membawa pikiran saya menyimpulkan bahwa hal yang sama terjadi pula pada jam-jam pembelajaran lain. Meski saya belum membuktikannya menanyakan kepada guru lain yang mengajar di kelas tersebut. Saya segera akan membuktikannya.

Akan tetapi, berdasarkan pengakuan anak didik saya itu bolehlah saya berprasangka baik. Bahwa perubahan terjadi karena pembelajaran yang kami alami. Dalam pembelajaran, diawali dengan anak didik mendalami persoalan yang dihadapi. Yakni memikirkan sampah yang tersimpan di laci meja akibat perilaku buruk sebagian dari mereka. Mereka memahami dampak buruk sampah yang tersimpan di laci meja. Memahami juga pengaruh baik jika sampah dibuang di tempat sampah. Secara emosi anak-anak merasakannya. Penghayatan itu mendorong anak-anak berbicara dengan  kejernihan hati dan pikiran yang akhirnya mampu mendorong mereka memilih berbuat baik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""