Kamis, 11 Mei 2017

Menjadikan Sekolah Embrio Kerukunan

Sekolah sebagai tempat berkumpul banyak anak dari latar belakang yang berbeda. Di sekolah-sekolah umum, kenyataan itu dapat kita temukan. Latar sosial-ekonomi, agama, suku, ras, dan lainnya berbeda-beda. Persamaannya adalah mereka bertujuan menuntut ilmu. Sehingga aktivitas belajar dan lainnya di sekolah dilakukan secara bersama-sama. Hal itu memungkinkan satu sama lain, sekalipun berbeda latar belakang, dapat berhubungan.

Pada titik ini sebetulnya sikap saling menerima perbedaan itu dapat ditumbuhkan. Sangat efektif dilakukan pengenalan adanya perbedaan karena anak-anak masih “bening” benak dan pikirannya. Lazimnya mereka belum memiliki pandangan-pandangan (tajam) berseberangan. Jadi, upaya membangun sikap kebersamaan dalam perbedaan sangat berpeluang ada hasilnya.
Apalagi saya meyakini bahwa setiap orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah umum, pasti tidak mempersoalkan adanya perbedaan. Mereka menerima adanya perbedaan itu. Artinya, mereka tidak ada kehendak untuk memisahkan anaknya dari anak lain yang berbeda latar belakang. Tentulah mereka memberikan kebebasan terhadap anaknya untuk berhubungan dengan semua teman sekelas, bahkan satu sekolah.
Dan, bukan berarti orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah khusus, lebih-lebih di sekolah yayasan berlatar belakang agama, melarang anaknya berteman dengan  anak berbeda agama. Toh dalam kehidupan sehari-hari mereka (orang tua dan anak) bermasyarakat dalam beragam latar belakang. Mereka berhubungan satu dengan yang lain dik masyarakat dalam menjalani kehidupan.

Atas dasar itu semua, sekolah menjadi lahan menyuburkan sikap menerima keragaman sebagai sebuah keniscayaan. Oleh karena itu, seharusnya sekolah secara serius mengenalkan bahkan memahamkan kepada anak didik terhadap adanya keragaman latar belakang. Tidak ada salahnya, misalnya, sekolah menyediakan simbol-simbol keagamaan, kebudayaan, kesukuan, dan sejenisnya di lingkungan sekolah. Dalam bentuk apa pun, yang sekaligus memperindah lingkungan belajar. 
Bahkan, jika memungkinkan sekolah menyediakan tempat ibadah sesuai dengan  agama dan kepercayaan yang dianut oleh semua anak didik. Agar semua merasa mendapat perhatian yang sama. Kebijakan   ini memang membutuhkan banyak  modal. Akan tetapi, hasil yang diperoleh sangat berarti. Yakni sejak awal anak-anak telah familier dengan adanya kebinekaan.
Jika ikhtiar baik itu dilaksanakan dalam kerangka pembangunan berbineka tunggal eka, maka fenomena-fenomena keretakan sosial kemasyarakatan seperti yang akhir-akhir ini terjadi, tidak kita temukan di bumi pertiwi ini. Sehingga stabilitas nasional terjaga. Keamanan tercipta.  Yang bukan mustahil kehidupan masyarakat akhirnya sejahtera dan damai secara berkeadilan. 

Bangsa Indonesia pun tentu mendapat acungan jempol dari bangsa-bangsa lain. Karena betapa bangsa yang kaya keragaman dapat membangun keharmonisan hidup bermasyarakat. Akhirnya, bukan tidak mungkin banyak investor asing yang terdorong membuka usaha di Indonesia. Kemartabatan Indonesia akhirnya terangkat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""