Jumat, 12 Mei 2017

Tenda PKL sebagai Media Literasi Anak Usia Din


Kami membeli capcay, mi goreng, dan nasi goreng di pedagang kaki lima (PKL) di area Pasar Kliwon, Kudus, Jawa Tengah (Jateng). Tiga jenis menu itu untuk tiga orang. Saya, isteri, dan si ragil (kakaknya sedang kuliah di Semarang). Kebetulan kesukaan kami berbeda. Saat kami menunggu pesanan itu, tiba-tiba pikiran saya meloncat ke penutup tenda PKL tersebut. Karena ada bagian yang menggoda pikiran saya, yakni   deretan tulisan tentang menu masakan yang tertera di penutup tenda itu. Tulisan yang sama juga ditempel di dinding   salah satu bagian los pasar, yang berada persis di belakang tenda tersebut.
Ruang antara dinding yang ditempeli spanduk bertulisan jenis menu masakan dan tenda digunakan untuk lesehan para konsumen yang menikmati pesanannya di tempat. Saat itu, tidak banyak yang membeli. Hanya satu orang terlihat menyantap pesanannya, sepertinya mi goreng dan nasi putih serta minuman teh. Kadang-kadang saya melirik orang itu karena mata saya memandang deretan tulisan yang tertempel di dinding persis di belakangnya. Ya, tulisan jenis menu masakan yang tersedia dan yang dapat dibeli konsumen.  
Saya merenungkan bahwa deretan tulisan itu mungkin efektif digunakan sebagai media belajar membaca. Anak-anak usia dini yang baru belajar membaca, saya pikir akan menyukainya. Tentu saja ketika orang tua, yang kebetulan bersama si kecil memesan menu di situ, mau memulainya mengajak si kecil belajar. Paling tidak ada tiga alasan mengapa si kecil menyukai. Pertama, deretan tulisan itu berukuran besar, yang memungkinkan  jari-jari tangan si kecil dapat meraba-rabanya. Kedua, lingkungan yang terbuka, pandangan bebas lepas, serta situasi yang rileks  dapat merangsang kemauan si kecil. Ketiga, ketika belajar membaca nama menu, si kecil dengan dibantu orang tua mungkin dapat melihat langsung wujud menunya  yang sedang dimasak.  

Pada titik ini, si kecil tidak hanya membaca tulisannya, tetapi dapat melihat rupa menu apa yang dimasak. Cara ini sangat efektif membangun daya ingat dan pengetahuan anak. Karena tidak hanya mengenal tulisan, pengetahuan si kecil diperkuat dengan bendanya. Jika dalam satu momen kedatangan di PKL itu memesan tiga menu, si kecil dapat membaca jenis menu dan mengetahui tiga wujud masakan. Kalau setiap datang membeli, melakukan hal yang sama, aktivitas literasi si kecil akan membuatnya kaya pengetahuan dan ilmu. Apalagi jika di rumah ditindaklanjuti dengan aktivitas menulis nama-nama menu yang sudah dibaca saat berada di PKL, pasti si kecil memiliki kompetensi lebih baik ketimbang anak usia dini lainnya.
Akan semakin menarik minat si kecil dalam berliterasi jika pada saat yang lain si kecil diajak membeli masakan lain di PKL yang berbeda. Di tempat itu, si kecil akan menemukan hal yang berbeda, yakni nama menu yang baru. Situasi yang baru, membuatnya bergembira. Stamina kegembiraan yang terus terjaga sangat mendorong kemauan belajar si kecil.
Tentu, saya tidak mengharuskan orang tua-orang tua si kecil untuk selalu membeli masakan di PKL, dengan cara pindah-pindah PKL. Tidak. Kebetulan saja saya menemukan “keunikan” tenda PKL, yang saya bayangkan dapat untuk menumbuhkan budaya literasi  bagi anak usia dini. Ini sebuah alternatif saja. Karena bukan mustahil ada banyak hal lain yang dapat dimanfaatkan untuk media aktivitas literasi, khususnya bagi anak-anak usia dini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""