Selasa, 05 September 2017

Topi

Topi termasuk senjata penting bagi saya saat bepergian dengan menaiki sepeda. Misalnya, saat pergi dan pulang bekerja dengan bersepeda. Hanya, topi yang saya kenakan saat pergi dan pulang sering berbeda.

Saat pergi bekerja hari masih pagi. Cahaya matahari hanya terasa hangat. Jadi topi yang saya kenakan topi yang biasa. Topi yang bagian depannya ada penutupnya. Tapi, bagian samping dan belakang tanpa penutup. Dalam dunia pertopian, katanya topi jenis itu dinamai topi bisbol (baseball cap). Bagi saya, fungsinya lebih pada membentengi rambut dari sapuan angin dan terpaan debu. 

Ya seperti berhelm ketika mengendarai motor. Hanya, berhelm saat mengendarai motor termasuk hal wajib. Jika tak berhelm termasuk salah satu item pelanggaran lalu lintas. Perihal bertopi saat bersepeda tak termasuk hal wajib. Juga tak termasuk salah satu item pelanggaran lalu lintas.

Topi yang biasa saya pakai saat pagi waktu berangkat bekerja, begitu tiba di tempat parkir, saya copot dari kepala. Saya cantholkan di salah satu stang sepeda. Saya atur agar tak jatuh. Ia bertengger di stang sepeda sampai waktu saya rampung bekerja. Bersama jaket. Berdua sepanjang waktu tersebut saya kira tak membosankan. 

Entah apa yang mereka lakukan. Saya tak mengetahuinya. Yang saya tahu ketika saya hendak pulang dan sudah berada di tempat parkir, topi masih setia bertengger di tempatnya. Di ujung salah satu stang sepeda.

Tapi, begitu persiapan menaiki sepeda saat pulang dalam panas yang garang, topi tersebut saya simpan dalam tas. Tak saya kenakan. Dalam kondisi cahaya matahari sangat panas, ia beristirahat. Bukannya agar ia tak dehidrasi. Tapi, agar saya yang tak kehabisan cairan.

Topi itu aman diam dalam tas di atas punggung. Tanpa kepanasan. Tanpa tertepa debu jalanan. Tapi, hal itu tak menandai bahwa ia tak berguna. Ia memiliki bagiannya sendiri seperti halnya saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""