Rabu, 06 Desember 2017

Habis Itu Hebat

Sebagian anak ada yang tidak menghabiskan jatah makannya. Masih ada lebih di atas piringnya. Sedikit atau banyak. Akan tetapi, tidak dapat dipaksakan untuk dihabiskan. Sebab, berakibat buruk kalau anak diminta untuk menghabiskannya.

Umumnya, ibu yang kemudian menghabiskan makanan yang lebih tersebut. Seperti sudah menjadi tradisi. Selalu begitu yang saya ketahui. Sekalipun di tempat yang sama ada ayah. Ibu tetap berperan  sebagai “penyapu” bersih.

Orang tua, siapa pun dia, pasti sangat senang kalau anaknya melahap habis bagiannya setiap makan. Tidak ada yang disisakan. Karena menandakan bahwa anak tersebut sehat. Pun sangat kecil kemungkinannya terserang penyakit. Karena stamina tubuhnya kuat.

Ada kebiasaan yang dilakukan sebagian orang tua agar anak menghabiskan makanan yang menjadi bagiannya. Sekarang saya jarang menjumpai kebiasaan itu. Akan tetapi, kebiasaan itu saya yakini masih banyak dijumpai di desa-desa. Yaitu, orang tua mengatakan kepada anaknya kalau makanannya tidak habis, nanti ayamnya mati. Di desa tertentu cara tersebut masih mujarab.

Berbeda dengan di tempat lain. Karena ternyata makanan yang lebih, yang tidak habis, diberikan pada ayam. Ya, kalau kebiasaan yang demikian tidak mengakibatkan ayamnya mati. Sebaliknya, justru ayamnya gemuk, berlemak. Kebiasaan ini sering saya lihat di daerah tempat tinggal saya. Apalagi kini orang memelihara ayam jarang yang meliarkan ayamnya. Ayam dipelihara dalam kandang. Jadi, ada makanan jenis apa pun yang lebih, langsung diberikan pada ayam. Ibu tidak berperan lagi sebagai “penyapu” bersih.

Bagi saya, anak yang menghabiskan makanan yang menjadi bagiannya adalah anak yang hebat. Terlepas dari  apakah dia sudah dapat menalar atau belum, yang pasti dia menyelesaikan makan dengan baik. Tidak ada yang disisakan. Tidak ada yang harus dimakan oleh ibunya atau diberikan pada ayam.

Membuat anak hebat dalam hal demikian tidak sulit. Orang tua, umumnya ibu, saat memberi makan kepada anaknya ukurannya secukupnya saja. Tidak berlebihan. Sehingga anak dapat menghabiskannya. Dengan ukuran secukupnya, memungkinkan juga anak meminta tambah. Kalau itu yang terjadi, patutlah orang tua merasa lebih bangga. Dan, anak kita layak diberi predikat hebat. Ini sekaligus  sebagai motivasi yang bukan mustahil membiasakan anak menghargai makanan. Setiap makan sesuai ukurannya dan selalu habis.


Kebiasaan yang masih kita lihat pada kebanyakan orang tua adalah memberi makan kepada anaknya dalam ukuran agak berlebihan. Alasannya, agar anaknya gemuk. Meski tak selalu habis pada akhirnya. Ya, hal itu biasa karena hampir setiap kita, orang tua, ketika melihat anak-anak yang berbadan gemuk, suka menggoda. Mencubit montok pipinya, misalnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""