Jumat, 29 Desember 2017

Memilih Dua

Kami tidak jadi membeli buku di toko buku terkenal. Meskipun, kami yakini buku yang kami maksud tersedia di toko tersebut. Toko yang sudah terkenal di seluruh wilayah Indonesia pasti menjual buku-buku secara komplit. Semua tersedia. Boleh jadi di toko lain tidak tersedia, di toko terkenal itu buku yang dimaksud tersedia. 

Di kota kecil kami memang tidak banyak toko buku. Jumlahnya dapat dihitung dengan jari tangan sebelah. Mungkin malah masih tersisa. Tidak sampai lima. Satu toko buku terkenal dan tiga toko buku lokal. Kami pergi ke salah satu toko buku lokal. Di toko buku itu kami sering membelikan buku bacaan untuk si ragil. Dan, selama ini, buku yang disukai si ragil adalah buku biografi. Buku para tokoh dunia. Beberapa riwayat hidup tokoh dunia telah dibaca. Di antaranya Oprah Winfrey, J.J. Rousseau, dan Mahatma Gandhi.
Dalam perjalanan menuju toko buku, tiba-tiba ibunya nyeletuk hendak membelikan helm (juga). Saya lantas menimpali dengan gaya berkelakar. Yaitu, si ragil saya beri dua pilihan. Membeli buku atau helm. Ia memilih kedua-duanya. Membeli buku dan helm. Saya kemudian menggodanya dengan sebuah penjelasan. Kalau membeli buku pasti bertambah pintar dan banyak pengetahuan. Akan  tetapi, kalau membeli helm pasti helm yang selama ini digunakan dibuang, jadi ada yang hilang. Pilih mana, kata saya. Ia (tetap) memilih kedua-keduanya.
Saya pikir ia memilih salah satu. Dugaan saya, ia memilih buku. Saya yakin ia tidak akan memilih helm. Sebab, ia mengetahui risikonya. Saya pasti tidak menyetujuinya. Si ragil sudah mengetahui arah pikiran saya. Akan tetapi, tidak berarti ia pandai meramal pikiran saya. Kebiasaan dan prinsip-prinsip yang saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi petunjuknya.

Perihal membeli helm jauh-jauh hari istri saya sudah menceritakannya. Akan tetapi, saya menolak. Sebab, helm yang selama ini dipakai si ragil, masih bisa dimanfaatkan. Karet penutup tepi helm memang mudah lepas. Bahkan, karena sering lepas dan  mengganggu saat dikenakan, saya merekatkannya dengan lem castol. Beberapa waktu aman. Nyaman dikenakan. Namun, akhirnya kembali lepas. Ketika hendak memakai harus menata karetnya. Selalu begitu. Dan, sebagai seorang ibu, tampaknya istri saya tidak tega melihat insiden itu.
Jadi, ada dua tujuan akhirnya. Membeli buku, seperti rencana awal. Juga membeli helm, seperti yang diucapkan istri saya saat perjalanan. Rencana awal harus terpenuhi dahulu. Oleh karena itu, kami menuju ke toko buku pilihan. Saat di toko buku, istri saya berhenti di lantai dasar, melihat-lihat buku di rak pajangan buku. Saya tidak melihat kategori buku apa yang dilihatnya. Saya mengantar si ragil ke lantai dua. Di rak pajangan buku di lantai dua buku biografi tokoh dipajang. Si ragil sudah hapal tempatnya. Tidak perlu waktu lama dalam memilih. Kurang dari lima menit, di tangannya sudah ada buku: Whay? Ruth Benedict
Saya tidak pernah membaca atau mendengar tentang tokoh Ruth Benedict. Akan tetapi, saya yakin dia tokoh yang hebat di bidangnya. Seperti tokoh-tokoh lain. Saya pun yakin, si ragil belum mengetahui tokoh itu. Karenanya, ia memilih buku tersebut. Saya tersenyum melihat si ragil tampak gembira menjinjing buku pilihannya. Membaca judulnya, konten buku tersebut sepertinya berat. Akan tetapi, tidak demikian. Sebab, isinya dibuat komik, cerita bergambar. Riwayat tokoh besar dengan keahlian di bidangnya akhirnya terasa ringan dibaca oleh anak-anak. Mudah dipahami. Dan, itu barangkali salah satu alasan mengapa si ragil selalu menginginkan buku-buku biografi sejenis itu. 
Berburu buku sudah selesai. Berikutnya berburu helm. Toko helm yang kami tuju adalah toko yang beberapa waktu lalu kami datangi. Toko, tempat saya membeli sandal. Ya, tempat membeli sandal, sebab di samping menyediakan sandal, sepatu, dan jasa reparasinya, toko itu juga menyediakan helm. Akan tetapi, helm pilihan untuk si ragil tidak tersedia. Hanya tersedia helm orang dewasa. Tidak tersedia helm untuk anak-anak. 
Sekarang, tentu (sudah)  sejak dahulu, anak-anak wajib mengenakan helm kalau mengendarai motor. Maksudnya, kalau anak-anak  bonceng motor wajib mengenakan helm. Sekalipun berada di depan, tengah, atau belakang, helm wajib dikenakan. Semata-mata untuk keamanan. Melindungi kalau ada benturan. Toh demikian saya masih melihat ada anak-anak yang tidak memakai helm. Orang tua yang memang harus mengikuti aturan berlalu lintas. Anak-anak belum mengetahuinya. Jadi, orang tua seharusnya yang memulai untuk anak-anaknya.

Kami akhirnya sampai di toko helm yang lain. Perburuan helm tampaknya berakhir di sini. Sebab, helm untuk anak-anak tersedia dan sepertinya banyak pilihan. Si ragil dan ibunya mulai memilih-milih. Saya melihatnya dari atas motor. Jelas terlihat karena jarak pandangan begitu dekat. Si ragil memilih satu helm. Diberikannya helm itu kepada ibunya. Lalu oleh ibunya, helm itu diserahkan kepada penjualnya. Terjadi transaksi. Harga sepakat. Helm ditata penjual sebelum dikenakan si ragil. Sangat pas di kepalanya.  Menarik dipandang. Kami akhirnya meluncur pulang dengan membawa buku dan helm baru, kedua-duanya pilihan si ragil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""