Jumat, 08 Desember 2017

Memotret Trotoar

Berbelok ke arah kiri dari pintu gerbang sekolah tempatku mengabdi, menyusuri Jalan Getas Pejaten. Nama jalan itu diambil dari nama desa. Sekolah tempatku mengajar memang berada di Desa Getas Pejaten. Jadi wajar kalau nama jalan yang membujur utara-selatan, sebagian membujur di depan sekolah kami, bernama Jalan Getas Pejaten. 

Nama-nama jalan di kota kecil kami umumnya menggunakan nama desa, yaitu nama desa lokasi jalan itu berada. Jadi relatif mudah mencari alamat seseorang. Menyebut nama desa atau nama jalan sama-sama petunjuk alamat yang mudah. Sangat efektif, karena menyebut satu mengarah dua objek: nama jalan dan desa.
Ya, ada juga nama-nama jalan yang menggunakan nama-nama pahlawan dan nama-nama leluhur yang menjadi tokoh masyarakat setempat. Nama gang juga ada yang menggunakan nama leluhur, misalnya, Gang mbah Jati, berada di Desa Jatikulon. Mbah Jati dikenal masyarakat setempat sebagai leluhur Desa Jatikulon. Makamnya terletak di desa tersebut.
Penamaan jalan yang menggunakan nama desa atau kampung tentu tidak hanya di kota kecil kami. Daerah-daerah lain pun saya pikir juga begitu. Menamai jalan sesuai dengan nama desa atau kampung. Artinya, penamaan jalan seperti itu sudah umum. Di mana pun ada. Jadi tidak perlu dibicarakan lebih panjang lagi.

Kembali saja ke Jalan Getas Pejaten. Dari depan sekolah tempat saya bekerja hingga depan Museum Kretek, ada banyak hal yang dapat kita lihat sejak pagi hingga malam. Setiap pagi dan siang saya melewati jalan itu. Jadi tidak terlalu sulit saya mencatat hal-hal yang dapat saya lihat di sepanjang jalan itu. Khususnya hal-hal yang ada saat pagi dan siang. 

Salah satu hal yang menggelitik pikiran saya adalah pemandangan di pinggir jalan. Pemandangan yang selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Pada pertengahan 2008, misalnya, di pinggir jalan tersebut tidak ada aktivitas orang. Keadaannya sepi. Pinggir jalan masih ditumbuhi rerumputan. Keadaan seperti itu yang barangkali menjadi faktor orang-orang tidak berminat memanfaatkannya.  Pinggir jalan tidak bertuan, jadinya.

Beberapa waktu kemudian, pemerintah daerah setempat menata pinggir jalan depan Museum Kretek. Pinggir jalan dipaving. Jadi trotoar. Kondisinya bersih. Tidak berumput dan tidak becek kalau hujan. Ukuran lebarnya cukup untuk parkir satu mobil pribadi. Jadi relatif panjang. 

Saya tidak tahu persis peruntukan trotoar tersebut ketika awal dibangun. Untuk pejalan kaki atau untuk yang lain. Trotoar yang dibangun dari paving tentu tidak kuat untuk beban berat. Untuk pejalan kaki relatif kuat. Akan tetapi, saya pikir tidak untuk pejalan kaki. Sebab trotoar itu hanya sepanjang bangunan Museum Kretek. Jadi mungkin hanya untuk memfasilitasi para pengunjung Museum Kretek. 

Namun tampaknya destinasi Museum Kretek tidak ramai pengunjung. Sehingga trotoar tersebut kurang berfungsi. Beberapa kali saya melihat, trotoar itu malah digunakan parkir truk. Tidak tanggung-tanggung. Truknya jenis truk besar. Sekalipun sebagian besar badan truk memenuhi trotoar, satu bagian tepinya mengganggu pengguna jalan. Keadaan itu mengundang kemacetan.

Akan tetapi, pemandangan itu tidak lama. Mungkin diketahui paving di beberapa titik rusak dan kemacetan terjadi, truk dilarang parkir. Ya, beberapa saat akhirnya kosong. Tidak termanfaatkan. Pengguna jalan sangat leluasa berkendara. Kalau saya mulai melihat ada seorang pedagang ayam setiap pagi menunggu, entah menunggu siapa, di salah satu titik trotoar berpaving, itu tidaklah berakibat buruk. Trotoar tetap baik dan bersih. Jalan di sepanjang trotoar juga tetap longgar.

Orang-orang yang berjiwa-usaha melihat lokasi tersebut, langsung berinisiatif. Sehingga beberapa waktu kemudian,  beberapa pedagang kaki lima kelihatan menempati beberapa titik trotoar. Setiap pagi saya selalu melihatnya. Yang paling banyak dikerubuti orang adalah penjual nasi. Wajar saja pemandangan itu terjadi karena mungkin orang lebih praktis membeli nasi berlauk untuk sarapan daripada memasak. Orang-orang di kota kecil kami yang tergolong sibuk karena kebanyakan buruh pabrik perihal praktis sebagai pilihan yang pertama.

Ya, kota kecil kami dikenal sebagai kota industri. Dari industri kecil (rumahan) hingga industri besar dapat dijumpai di kota kecil kami ini. Sehingga daerah kami seakan magnet yang dapat menyedot elemen-elemen yang berada di sekitarnya. Banyak orang dari daerah luar terdekat yang bekerja di daerah kami. Keadaan ini pula yang sedikit-banyak mendorong orang-orang di daerah kami berjualan.

Pada saat ini trotoar yang saya ceritakan di atas sudah penuh dengan pedagang. Bahkan sudah meluas ke bagian sebelahnya, yang tidak berpaving. Jadi praktis sepanjang tepi jalan sebelah barat  dari depan sekolah tempat saya mengajar hingga depan Museum Kretek sudah penuh dengan pedagang, sejak pagi hingga petang. Sepengatuhan saya, barang yang dijual jenis makanan, di antaranya es, bubur, bakso, nasi, siome, kadang-kadang kepiting, kerang, dan akhir-akhir ini banyak juga didagangkan buah, termasuk durian. 

Pemandangan trotoar yang begitu hampir dapat kita temukan di mana-mana. Tidak hanya di kota kecil kami. Di daerah lain, khususnya di perkotaan, trotoar menjadi pusat perputaran uang rakyat. Kelangsungan hidup rakyat perkotaan dapat kita potret di sepanjang trotoar.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""