Rabu, 06 Desember 2017

Menghargai Inisiatif Anak

Semua guru memiliki pengalaman menarik berkaitan dengan anak didiknya. Boleh jadi pengalaman itu sederhana. Akan tetapi, hal yang sederhana bisa saja menarik. 

Saat hendak keluar kelas, menuju ke ruang guru karena waktu istirahat, saya dihentikan salah seorang anak didik. Persis di depan mulut pintu kelas. Saya berhenti. Menatap wajahnya. Sepertinya ada sesuatu yang hendak disampaikan kepada saya.
Ternyata benar. Ia menyampaikan sebuah pertanyaan. Pertanyaannya terkait dengan soal-soal Bahasa Indonesia. Soal-soal Bahasa Indonesia tidak mudah dijawab. Begitu katanya. 
Saya juga pernah mendengar hal yang sama. Ini malah dari teman guru. Ia mengatakan bahwa jawaban atas soal-soal Bahasa Indonesia, sulit. Teman saya tersebut mempunyai anak yang masih belajar di bangku SMP. Boleh jadi keluhan teman saya itu bermula dari pengalaman anaknya.

Hal yang melekat erat dalam pikiran saya adalah “kemauan” salah seorang anak didik saya menyampaikan persoalannya. Ini kejadian yang langka. Sebab, ada banyak anak didik, hanya ada satu yang berkemauan. Padahal, bukan mustahil mereka memiliki persoalan yang tidak jauh berbeda.  

Kemauannya itu perihal yang hebat, menurut saya. Sebab, hal itu pasti muncul dari dalam dirinya. Tidak karena disuruh, apalagi dipaksa, oleh orang lain. Selain itu, karena kemauan muncul dari dalam diri, orang lain yang menanggapi tidak akan mengalami kesia-siaan. Tanggapan yang diberikan niscaya diterima dengan senang.

Itulah sebabnya, saya sangat menghargai kehendak anak didik saya tersebut. Kemauannya bertanya saya respon dengan baik. Saya tidak memilih untuk beristirahat. Akan tetapi, memilih untuk menerimanya. Yang berarti saya harus memberi jawaban atas pertanyaannya. Ya, sementara saya harus bertahan. Tidak meninggalkannya dengan alasan yang sebenarnya sangat mudah saya buat.

Sebelum saya menjawab, beberapa anak lain mendekat. Mereka penasaran, tampaknya. Barangkali untuk memenuhi rasa ingin tahunya itu, mereka lantas bergabung. Yang menarik bagi saya adalah mereka tidak beranjak saat saya mulai memberi penjelasan terkait pertanyaan sahabatnya itu. Mereka tetap ada di dekat saya, sampai saya rampung memberi pemahaman.

Saya pikir kemauan mereka bergabung juga hal yang hebat. Sekalipun tidak bertanya, mereka mau mendengarkan penjelasan, yang merupakan pilihan berbeda,  yang tidak banyak orang melakukannya. Ini kelebihan mereka. Oleh karena itu, saya  sangat menghargai inisiatif yang baik itu. 

Inisiatif agaknya tidak mudah terungkap. Sepertinya harus dalam kondisi terdesak, inisiatif baru terungkap. Akan tetapi, tidak setiap orang dalam kondisi terdesak berani mengungkapkan inisiatif.  Hanya orang-orang yang memiliki harapan yang mau mengungkapkan inisiatifnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""