Rabu, 27 Desember 2017

Pertemuan

Kami bertemu bapak. Di kediamannya, di Desa Karangsari, Cluwak, Pati, Jawa Tengah. Bapak dalam keadaan sehat, untuk ukuran orang lanjut usia. Usia bapak sudah 92 tahun. Tentang usia tersebut ia sendiri yang mengatakannya kepada kami. Kami, saya terutama, selalu memuji kondisi bapak karena setua itu, ia masih berjalan tegak.

Saat kami datang, ia menyambut kami. Berjalan dari arah dalam menuju pintu. Langkahnya belum sampai mulut pintu, kami mendahuluinya masuk ke dalam rumah. Artinya, langkah kami lebih cepat daripada bapak. Saya pikir hal itu wajar.  Menunjukkan keadaan orang lanjut usia. Meskipun sehat, tetapi ada keterbatasan.

Kami akhirnya bercakap-cakap. Bapak antusias berbicara. Mengimbangi kami. Saat kami bertanya, ia memberi jawaban secara cepat. Jawaban yang diucapkan sesuai dengan pertanyaan yang kami utarakan. Tidak ada jawaban yang meleset. Semua jawaban nyambung dengan pertanyaan. Ini juga kehebatan yang bapak miliki.
Pertemuan yang menyenangkan. Saya dapat melihat bapak secara langsung. Wajahnya terlihat segar. Bahkan, istri saya bilang bapak kelihatan muda. Kulit wajahnya bersih. Tidak terlihat kering. Seperti ada perawatan. Meski saya pastikan bapak tidak melakukan perawatan. Hidup sederhana di desa yang belum banyak polusi boleh jadi cara perawatan alami. Bapak masih dapat menikmati makan. Sayur yang langsung petik di sekitar rumah, kesukaannya, tak ditinggalkan. Ia bilang kalau makan masih enak. Begitu pun kalau ke “belakang”, masih dapat dilakukannya dengan baik. Bagi saya, hal-hal itu menandai bahwa seseorang masih sehat. Kondisi itu yang membahagiakan saya. 
Berkunjung ke rumah bapak biasanya kami lakukan sebulan sekali. Itu paling lama. Artinya, sebulan bisa dua kali. Pertemuan kali ini dengan pertemuan sebelumnya selang dua bulan. Jadi kali ini pertemuan yang lama. Selama dua bulan itu juga tidak ada berita. Saya memang berpesan kepada adik untuk memberi kabar kalau bapak mengalami “sesuatu”. Kalau selama dua bulan itu tidak ada kabar, apalagi kabar yang kurang mengenakkan, saya pastikan bapak dalam kondisi baik-baik saja. Dan, memang begitu kenyataannya. Pertemuan kami diselimuti suasana kegembiraan.
Dalam pertemuan tersebut bapak bercerita bahwa dirinya merasa bersyukur memiliki istri ibu. Meskipun bukan istri yang pertama. Istri yang pertama, ibu kandung saya, meninggal ketika saya masih balita. Bapak merasa sangat diperhatikan oleh ibu selama ini.   Tidur tidak pernah sendiri. Selalu berdua. Dalam keadaan sakit atau sehat bapak mendapat perhatian yang cukup. Bahkan, bapak nyeletuk ibu masih muda. Kami yang mendengarkan celetukan itu merasakan ada sensasi yang begitu khusus. Ah bapak, ada-ada saja.
Sayang, saat itu kami tidak bertemu ibu. Di rumah hanya ada bapak dan ibu. Berdua. Rumah adik ada di sebelahnya. Namun, adik sepertinya tidak ada di rumah. Bapak tidak mungkin mencari ibu. Karena jarak tempuh jalan bapak tidak jauh. Pun tidak mungkin bapak berteriak-teriak memanggil ibu. Ya, akhirnya kami ngobrol-ngobrol bertiga sambil menunggu kalau-kalau ibu datang. 

Bapak membicarakan anaknya satu per satu. Selalu begitu kalau kami bertemu. Mulai dari kakak tertua hingga adik. Juga dua adik kami dari ibu, istri kedua bapak. Hanya, bapak tidak melihat secara sebanding terhadap kami, anak-anaknya. Ia mengatakan ada yang perhatian, ada yang kurang. Mungkin begitu sikap (setiap) orang tua yang sudah usia lanjut. Selalu membanding-bandingkan. Barangkali hal itu menandakan bahwa ia membutuhkan perhatian yang sama dari setiap anaknya. Kalau sudah berbicara sampai perihal itu, terlihat mendung di wajah bapak. 
Ibu belum datang juga sampai bapak kedatangan tamu. Sahabatnya. Sama-sama tua, seusia bapak. Tamu bapak melangkah menuju pintu rumah. Saya kira dia sahabat ngobrol bapak sehari-hari. Mereka terlihat begitu akrab. Oleh bapak ia diperkenalkan kepada kami. Bapak begitu senang memperkenalkan kami kepada sahabatnya. Mendung di wajah bapak hilang seketika. 
Pertemuan kali ini kurang lengkap. Karena ibu akhirnya tidak bisa kami jumpai. Bapak tidak bercerita tentang ibu sedang ke mana. Sepertinya bapak berpikir ada tidaknya ibu di antara kami kurang penting (semoga tidak ah!). Yang penting adalah kami sudah bertemu dengannya. Berbincang-bincang. Bapak melihat kami. Kami melihat bapak. Dan, seperti umumnya anak-anak mengunjungi orang tua, kami melakukannya. Apalagi bapak bukan pensiunan. Bapak menerimanya dengan sukacita. Seberapa pun pasti menjadikan bapak merasa  diperhatikan. Hangatnya cahaya mentari sore melepas kami meninggalkan kediaman bapak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""