Rabu, 14 Februari 2018

Banyak Ruang Untuk Berliterasi

Saat menjemput si ragil berlatih polisi cilik (polcil), saya melihat pemandangan yang menarik. Ada seorang ibu yang sedang membuka-buka buku bersama anaknya. Saya memotret pemandangan itu. Tidak sepengatuhan mereka. Jadi, sangat alami. Mengabadikannya dalam galeri HP, saya rasa sangat berarti. Sia-sia kalau aktivitas semenarik itu saya biarkan berlalu begitu saja.

Saya mengenal mereka. Satu anaknya teman si ragil. Teman sekolah dan teman anggota polcil. Mereka memang sedang bersama-sama berlatih poncil. Dan, saat itu, kami, orang tua, sedang menjemput mereka. Sesuai dengan jadwal latihan, sudah waktunya pulang. Akan tetapi, kami masih harus sabar menanti karena ternyata latihannya diperpanjang beberapa menit.

Dalam waktu menunggu tersebut tampaknya dimanfaatkan oleh salah seorang ibu yang sudah saya kenal itu membelajari anaknya untuk membaca. Buku anak-anak. Di dalamnya terlihat ada gambar-gambar berwarna dan teks-teks pendek. Cocok untuk anak bawah lima tahun (balita). Yaitu, anak-anak PAUD. Saya berada persis di belakang mereka. Namun mereka tidak melihat saya saking fokusnya terhadap aktivitas berliterasi tersebut.
Ooo, ternyata kegiatan literasi dapat dilakukan di mana dan kapan saja. Saya telah melihat buktinya. Ibu dan anak kenalan saya tersebut melakukannya di salah satu bagian selasar kantor polisi. Saat mereka menanti anak dan kakak yang sedang berlatih polcil. Hanya, kegiatan berliterasi tersebut dapat dilakukan kalau memang ada buku yang sudah dipersiapkan. Dalam temuan saya tersebut, pastilah sang ibu sudah mempersiapkannya. Dengan begitu, di mana dan kapan pun, kalau tempat dan waktu memungkinkan aktivitas berliterasi dapat dilakukan.
Semoga pemandangan yang saya temukan itu, terjadi juga di tempat lain. Tidak hanya terbatas pada ibu dengan anak. Akan tetapi, bisa juga pada ayah dengan anak, kakak dengan adik, nenek dengan cucu, kakek dengan cucu, atau siapa saja. Atau, setidak-tidaknya, pemandangan yang saya temukan itu dapat menginspirasi kita. Kita mau meneladaninya. Karena ada efek yang positif. Menanamkan budaya berliterasi pada diri sendiri dan orang-orang terdekat.

Hanya memang harus mulai membiasakan membawa buku atau sarana lain yang dapat untuk berliterasi kapan dan ke mana pun kalau  bepergian. Pasti lebih bermanfaat beraktivitas dengan sarana buku ketimbang WA-nan, facebook-an, atau yang sejenisnya. Lebih-lebih kalau saat tersebut bersama anak. Membiasakan anak bergumul pada buku jauh lebih mendidik ketimbang membiarkannya bermain gawai ketika sedang antre obat di apotek, misalnya. 
Hal itu memang tidak biasa kita lihat. Yang sering kita lihat adalah orang-orang sibuk dengan gawai. Akibatnya, tak ada satu pun di antara orang yang ada tersebut berkomunikasi. Secara ekstrem saya katakan, kalau sama-sama tidak ada komunikasi antarorang di sana, bukankah lebih baik menyuntukkan diri dengan buku atau sarana lain dalam berliterasi saja? 
Toh pengalaman yang saya temukan --mungkin Anda juga pernah menemukannya-- tidak ada orang yang mengusiknya. Mereka terlihat enjoi saja melakukan aktivitas tersebut. Di sekitar mereka ada banyak orang. Tak satu pun ada yang mengganggu. Saya, mungkin satu-satunya orang, yang “mengusili” dengan mencepretkan kamera ke arah mereka secara diam-diam. Tidak mengganggu karena mereka tidak mengetahui.  Melihatnya, saya tidak  menganggap aktivitas yang dilakukan sebagai keanehan. Pun saya yakini demikian bagi banyak orang di sekitar mereka. Bukan mustahil banyak orang di sekitar mereka (dalam hati) malah mengaguminya seperti saya, yang secara terang-terangan memotretnya. 

Semestinya kekaguman itu (bisa) dilanjutkan mempraktikkan berliterasi. Jadi, orang berliterasi dapat menginspirasi orang untuk berliterasi. Kalau ini yang terjadi, bangsa Indonesia tidak sulit mengejar kemajuan bangsa lain. Generasi mudanya, terutama, tentu memiliki kemampuan berkompetisi, baik di tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

""